“Akhirnya
Liburan di Bandealit”
Pada tanggal 15 Mei 2015 saya
merasakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Bagaimana tidak? Jika saya
dan teman-teman dapat merasakan pengalaman yang menyenangkan di Bandealit yang merupakan salah satu
tujuan wisata alam khusus yang ada di Taman Nasional Meru Betiri yang lokasinya
berada di kabupaten Jember bagian selatan.
Nggak sabar ngerasain liburan yang menyenangkan itu, saya dan
teman-temanpun segera berkumpul ba’da dhuhur di kediaman pak Arsyad. Sangking semangatnya
itulah mungkin kelihatan ‘terlalu dini’
dengan dibuktikan keberangkatan dimulai pukul 14.00 WIB karena ada berbagai hal
yang perlu diurus. Yang lebih ‘amazing’
lagi adalah transportasi yang kami gunakan untuk menuju lokasi tempat wisata
Bandealit adalah truk yang cukup hebat untuk membuat kami terguncang
kanan-kiri-depan-belakang karena perjalanan yang dituju bukan lokasi biasa, jalan
berlubang-hingga tak beraspal-pun jadi! Apalagi ada jalanan yang
menanjak-hingga belokan yang ‘mengerikan’. Tapi di semua sensasi jalan yang
membuat saya sangat senang adalah ketika melewati areal hutan yang nggak
nyangka rombongan kami disambut dengan segerombolan kera yang kelihatan
menakutkan! Wiiiissssh... kok bisa? Bagaimana tidak menakutkan jika kera-kera
itu terus bersuara gaduh dan berlarian diatas kami seperti merasakan
ketidak-nyamanan atas kedatangannya kami. Nah! Lagi-lagi, bukannya lebay ya! Masalahny,
kondisi memungkinkan si kera-kera yang berukuran ‘mantap’ itu bisa saja turun
tepat di tempat yang mengangkut kami ini karena truk kami memang harus berhenti
di depan pos jaga, mungkin ada hal-hal yang harus diurus. Namun tak lama, truk
kami mulai berjalan dengan sedikit ‘maksa’ dan hati-hati karena jalan mulai
menyiut dan berat dengan tanjakan yang nggak kalah seram.
Sisa perjalanan dengan syukur kami rasakan hingga dapat kami
rasakan pasir pantai Bandealit yang mulai menyapa sepatu atau sandal-sandal
kami, bahkan teman-teman yang lain langsung saja melepas sepatu dan sandal
mereka. Langsung, lari ke laut! Hahahaaa! Maklum, kami sampai di lokasi tepat
pukul 16.30 WIB. Tapi kesenangan teman-teman memang harus ditunda terlebih
dahulu. Kami harus berkumpul dan mulai mendirikan tenda-tenda yang memang
diperuntukkan untuk setiap komunitas. Kebetulan jumlah komunitas komunikasi ‘pas’
untuk satu tenda kecil, yakni 5 orang, satu absen karena urusan keluarga. Sorepun
mulai ‘nyingkrih’ diganti malam, terlihat rona oranye yang mulai memudar,
disinilah saya dan teman-teman sekomunitas merasakan ‘apes’ yang teramat
sangat. Why? Masalahnya tenda yang kami dirikan tidak segera berdiri karena
kurang telaten dengan model tenda yang kami anggap menyusahkan. “laaah wong kene masang iki, lha kok seng
kono ucul. Rumangsane lhee.. kesel.” Kata rekan sekomunitas saya, haha! Ingat
betul. Bukannya apa, masalahnya, Cuma tenda kami yang saingan dengan tenda
sebelah yang sama-sama ‘mendirikan sendiri’ tapi nggak jadi-jadi. Hehe. Akhirnyalah
kakak-kakak yang baik hati (katanya, hehee) bersedia membantu dibarengi dengan
gojlokan pak Hendro yang menyebalkan karena tenda kami yang tak cepat berdiri.
nah, selepas tenda kami yang alhamdulillah akhirnya berdiri
itu, kami segera bersih diri dan mulai melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Hmm,
melihat teman-teman dengan rona bahagia dan khusyu’ melaksanakan shalat berjama’ah
membuat pengalaman saya di tempat itu menjadi lebih lengkap. Suara deburan
ombak, bau asin yang menguat, dan pasir pantai yang menyenangkan mulai menemani
dan harus akrab dengan kami memang sejak kami datang lalu disusul dengan
pemberian materi setelah melaksanakan shalat isya’ berjamaah yang cukup seru
yang dibawakan oleh pak Arsyad, lalu pak Hendro sebagai ‘pelengkap’ orang lucu
dan mas Catur yang nggak kalah gokil hingga tiba saat kami melakukan game kecil
menegangkan! Hehehee.... salut punya deh untuk HW Watukebo, setiap game-nya
yang harusnya menyenangkan itu, bagi saya malah kelihatan menyeramkan. Kok bisa?
Seramnya kalau kena ‘zonk’ itu yang nyebelin. Di permainan saat itu kami duduk
melingkar dan mulai bernyanyi lagu-lagu anak kecil, dari pelangi-pelangi sampai lagu balonku
ada lima kemudian nggak kalah ‘Lek Wandra’ si biduan Banyuwangi ikut
diseret-seret lagunya dengan genjrengan dari Aji yang emang lumayan pinter
kalau soal nggenjreng gitar tapi minus kalau harus cas-cus pakek bahasa inggris yang baik dan benar pas di kelas. Wkwkwk.
Bercanda deeh! Naaah kami nyanyi-nyanyi itu sambil menggilir sebuah botol
plastik sedang dari tangan satu ke tangan yang lain dan konsekuensi ketika lagu
itu berhenti di tangan satu orang yang terakhir memegangnya itulah yang ngeri. Kadang
disuruh joget-joget lucu ala ‘watermelon-nya’ pak Hendro sampai ‘ayam mentok-mentok
bebek-nya’ si uut yang emang hobi kalau harus nyanyi itu. heheee. Namun lain,
konsekuensi saat itu adalah harus memimpin lagu yang dinyanyikan teman-teman,
wiiih sedikit lega-lah ya! Heheee tapi tetap tidak bisa membiasakan saya yang
sedikit malas untuk melakukan itu. malu rasanya! Dan kabar baiknya adalah saya
lolos dari jebakan si pelangi-pelangi itu dan mulai ikut game baru yang sangat
seru bagi kami dan termasuk bagi kalian-kalian yang nggak pernah main
kejar-kejaran ala bollywood, di pantai pula! Sukuriiin! Hehee
Kalau ditanya permainan apa yang kami mainkan hingga mengundang
adegan ala kejar-kejarannya bollywood, maka jawabannya adalah... kami memainkan
permainan ala kerajaan yang melakukan ekspansi ke kerajaan sekitarnya. Semacam ‘siapa
yang mencaplok siapa,maka ia jadi yang terkuat’. Permainan tidak langsung
dimulai. Namun dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Yakni teman-teman yang
mendapat ‘jatah’ zonk tadi segera berkumpul dan melakukan pengelompokan sebagai
raja dan ratu untuk menjadi pemilik kerajaan lalu mereka dijelaskan cara kerja
permainan oleh pak Arsyad. Sedangkan teman-teman lain yang lolos dari jebakan
si pelangi-pelangi itu malah harus puas berdiri menunggu jemputan dari raja dan
ratu kerajaan-kerajaan itu untuk jadi anggota mereka. Naah, kebetulannya pula,
komunitas kami jadi satu di bawah Raja Tio dan Ratu riki! Heheee.. sedangkan
panglima dipegang oleh Aldi yang memang jago lari. Kekalahanpun dibuktikan
dengan direbutnya bendera kerajaan satu oleh kerajaan lainnya. Sialnya raja dan
ratu kami tertangkap karena lagi bingung kehabisan taktik untuk kabur hingga
menerima kesepakatan untuk bergabung dengan satu kerajaan yang dipimpin oleh si
Raja Ferga dan Ratu Uut yang licik sampai bisa kabur dari sekapan kerajan kami!
Hahaaa kocak pokoknya. Apalagi sebelumnya kami bisa mengakali kerajaan lain yang
hendak merebut bendera kerajaan kami, dengan cara membuat bendera tiruan,
sedangkan bendera asli di sembunyikan di tempat aman yang tak terlihat mata. Permainanpun
semakin asyik dengan aturan waktu netral yang diberlakukan dimana seluruh raja
dan ratu berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah atau memprotes, dll. Waktu
benar-benar tak terasa menunjukkan pukul 23.00 WIB dan mengharuskan kami untuk
segera beristirahat, apalagi tentunya seharusnya kami merasa nyaman untuk tidur
dengan kemenangan koalisi yang terjalin antara 6 kerajaan yang menjadi satu dan
dipimpin oleh Raja Ferga dan Ratu Uut. Wkwkwk!
Kamipun bersiap untuk tidur. Ada yang pergi ke kamar mandi
terlebih dahulu, makan, dll. Tempat ini lumayan nyaman dengan adanya fasilitas
air bersih (tawar) dan kamar mandi yang bersih sebagai tempat untuk melakukan
hajat dll. Sehingga kami yang memang tak pernah rewel soal mandi dan minum
cukup bersyukur untuk itu. kami kira, kami memang harus tidur. Namun ternyata
tidak, komunitas berburu mulai beraksi melihat jebakan yang dipasang sore tadi
di sebuah lingkungan yang mirip rawa di dekat pantai. Kamipun ingin melihat
sambil menikmati malam dengan suasana pantai di terangi lampu yang memang sudah
mulai redup di dekat tempat mirip gazebo namun berkeramik. Malampun mulai larut
dan saya peribadi, memutuskan untuk tidur duluan. Heheee.
Pagi, pada tanggal 16 Mei 2015 tentu menjadi pagi hari yang
berbeda untuk saya. Karena pagi itu saya langsung disapa oleh deburan ombak dan
angin semilir yang membawa bau khas pantai sambil menikmati wajah-wajah yang
begitu segar selepas melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Selepas itupun kami
bebas beraktifitas, termasuk bermain ke pantai, sarapan, bersih diri, dll. Kemudian
sebelumnyapun kami melakukan aktifitas bersama, yakni kami melakukan senam
bersama sambil dua orang yang saling bersisihan harus maju bersama untuk
menjadi mentor di setiap satu gerakan yang memang harus mereka temukan, namun
ada masalah antara saya dan Via yang memang posisinya sedang di samping saya. Apa?
yakni kami memilki hajat untuk segera ke kamar mandi! Dan terjadilah
kejar-mengejar waktu hingga kemudian kami maju dan membuat gelak tawa
teman-teman lainnya dengan gerakan senam ala mengucek dan menjemur pakaian! Hehehe,
kemudian pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul untuk melakukan aktifitas komunitas
masing-masing. Seperti apa? ya tentunya untuk komunitas ternak dan komunitas
berburu menjadi satu untuk melakukan perburuan demi mendapat jatah sarapan
untuk komunitas mereka yang kebanyakan memang putra. Sedangkan untuk komunitas
ilmu alam dan kuliner bergabung menjadi satu untuk mendapat materi dari pak
Arsyad mengenai sumber makanan apa saja yang dapat ditemukan di dalam hutan,
termasuk yang beracun maupun tidak beserta ciri-ciri dan wujudnya, kemudian
ditunjukan pula trik-trik pemenuhan kebutuhan untuk manusia yang bisa digunakan
untuk bertahan hidup di hutan, dan masih banyak lagi tentunya. Sedangkan komunitas
komunikasi dicukupkan untuk melakukan kegiatan untuk mencari tau apa saja
aktifitas yang komunitas lain lakukan lalu menyajikannya di sebuah laporan.
Masa materipun tak lama, kami segera digiring untuk bersiap
merapikan barang-barang ke dalam tenda karena kami akan segera mengunjungi goa
Jepang yang berada lumayan jauh dari lokasi berkemah pada pukul 12.00 WIB setelah
shalat dhuhur. Sambil menelusuri jalan menuju goa Jepang itu kami diajari untuk
menentukan titik koordinat lokasi kami menggunakan kompas dan sistem ukur yang
cukup manual namun akurat patut dicoba sebagai ilmu. Sungguh menyenangkan
memang, hingga pukul 14.00 WIB kami bergegas untuk merapikan bawaan, membongkar
tenda, dan shalat ashar hingga kemudian menunggu jemputan truk yang menurut
kesepakatan akan menjemput di sore hari. Masalahnya, waktu terus bergulir
bahkan ditinggal main voli dan pak Arsyad serta pak Hendro yang bersedia melucu
demi membuat kami tak merasa sebal dan tetap have a fun. Dan apa yang terjadi? Kami
menunggu hingga pukul 16.30 WIB. Saat itulah truk datang, kamipun cukup lega
tanpa uring-uringan karena sepaham kami bahwa supir truk dan kami mengalami
kesalah pahaman yang menyebabkan si sopir baru sampai pukul 16.30 WIB, sama
dengan waktu saat kami sampai pula di Bandealit pertama kalinya. Haha! Namun bagaimanapun,
kami masih memiliki sisa menyenangkan dalam perjalan. Masih dengan kera yang
bergelantungan, melihat babi hutan yang besar, dan bahkan merasakan gelapnya
hutan sambil terus berdo’a karena truk tentunya melewati jalan yang sempit dan
curam yang memang harus mengalah dengan kendaraan satu dengan yang lain agar
bisa lewat di jalan yang kecil dan di kanan-kirinya terkadang cukup ada jurang
yang dalam. Namun, yang paling luar biasa buat saya adalah ketika melihat
kerlipan cahaya yang mulai nampak indah di kegelapan malam, tentu kita
menyebutnya kunang-kunang. Maklumlah, terakhir kali saya melihat kunang-kunang
adalah ketika saya duduk di kelas 1 SD di rumah nenek, hingga kemudian... entah
kemana kunang-kunang itu. lalu tak kalah indah juga pemandangan yang tersaji di
dataran bawah yang menyajikan kerlipan cantik dari lampu-lampu milik penduduk
yang berkelip. Seperti taman bintang tentunya. Kemudian lucunya adalah ketika saya
dan teman-teman hampir sampai di rumah pak Arsyad, kenapa? Karena banyak
diantara kami ingin mengulang lagi perjalanan “kurang suwiiii!” itu kata
mereka! Hehe. Dan pada akhirnya, saya sampai di rumah pukul 20.00 WIB sambil
menyimpan banyak kenangan yang tentunya tak hanya yang saya tulis saja. Masih banyak
hal yang tak saya tulis sebagai kenangan yang memang hanya pantas untuk saya
simpan sendiri! Hehe, jangan kepo ya!!!
Laporan : Fitriah Ika Sari.