Senin, 18 Mei 2015

Ada HW di Bandealit, Antara Bollywood Hingga Balonku

“Akhirnya Liburan di Bandealit”
Pada tanggal 15 Mei 2015 saya merasakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Bagaimana tidak? Jika saya dan teman-teman dapat merasakan pengalaman yang menyenangkan di Bandealit yang merupakan salah satu tujuan wisata alam khusus yang ada di Taman Nasional Meru Betiri yang lokasinya berada di kabupaten Jember bagian selatan.
Nggak sabar ngerasain liburan yang menyenangkan itu, saya dan teman-temanpun segera berkumpul ba’da dhuhur di kediaman pak Arsyad. Sangking semangatnya itulah mungkin kelihatan ‘terlalu dini’ dengan dibuktikan keberangkatan dimulai pukul 14.00 WIB karena ada berbagai hal yang perlu diurus. Yang lebih ‘amazing’ lagi adalah transportasi yang kami gunakan untuk menuju lokasi tempat wisata Bandealit adalah truk yang cukup hebat untuk membuat kami terguncang kanan-kiri-depan-belakang karena perjalanan yang dituju bukan lokasi biasa, jalan berlubang-hingga tak beraspal-pun jadi! Apalagi ada jalanan yang menanjak-hingga belokan yang ‘mengerikan’. Tapi di semua sensasi jalan yang membuat saya sangat senang adalah ketika melewati areal hutan yang nggak nyangka rombongan kami disambut dengan segerombolan kera yang kelihatan menakutkan! Wiiiissssh... kok bisa? Bagaimana tidak menakutkan jika kera-kera itu terus bersuara gaduh dan berlarian diatas kami seperti merasakan ketidak-nyamanan atas kedatangannya kami. Nah! Lagi-lagi, bukannya lebay ya! Masalahny, kondisi memungkinkan si kera-kera yang berukuran ‘mantap’ itu bisa saja turun tepat di tempat yang mengangkut kami ini karena truk kami memang harus berhenti di depan pos jaga, mungkin ada hal-hal yang harus diurus. Namun tak lama, truk kami mulai berjalan dengan sedikit ‘maksa’ dan hati-hati karena jalan mulai menyiut dan berat dengan tanjakan yang nggak kalah seram.
Sisa perjalanan dengan syukur kami rasakan hingga dapat kami rasakan pasir pantai Bandealit yang mulai menyapa sepatu atau sandal-sandal kami, bahkan teman-teman yang lain langsung saja melepas sepatu dan sandal mereka. Langsung, lari ke laut! Hahahaaa! Maklum, kami sampai di lokasi tepat pukul 16.30 WIB. Tapi kesenangan teman-teman memang harus ditunda terlebih dahulu. Kami harus berkumpul dan mulai mendirikan tenda-tenda yang memang diperuntukkan untuk setiap komunitas. Kebetulan jumlah komunitas komunikasi ‘pas’ untuk satu tenda kecil, yakni 5 orang, satu absen karena urusan keluarga. Sorepun mulai ‘nyingkrih’ diganti malam, terlihat rona oranye yang mulai memudar, disinilah saya dan teman-teman sekomunitas merasakan ‘apes’ yang teramat sangat. Why? Masalahnya tenda yang kami dirikan tidak segera berdiri karena kurang telaten dengan model tenda yang kami anggap menyusahkan. “laaah wong kene masang iki, lha kok seng kono ucul. Rumangsane lhee.. kesel.” Kata rekan sekomunitas saya, haha! Ingat betul. Bukannya apa, masalahnya, Cuma tenda kami yang saingan dengan tenda sebelah yang sama-sama ‘mendirikan sendiri’ tapi nggak jadi-jadi. Hehe. Akhirnyalah kakak-kakak yang baik hati (katanya, hehee) bersedia membantu dibarengi dengan gojlokan pak Hendro yang menyebalkan karena tenda kami yang tak cepat berdiri.
nah, selepas tenda kami yang alhamdulillah akhirnya berdiri itu, kami segera bersih diri dan mulai melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Hmm, melihat teman-teman dengan rona bahagia dan khusyu’ melaksanakan shalat berjama’ah membuat pengalaman saya di tempat itu menjadi lebih lengkap. Suara deburan ombak, bau asin yang menguat, dan pasir pantai yang menyenangkan mulai menemani dan harus akrab dengan kami memang sejak kami datang lalu disusul dengan pemberian materi setelah melaksanakan shalat isya’ berjamaah yang cukup seru yang dibawakan oleh pak Arsyad, lalu pak Hendro sebagai ‘pelengkap’ orang lucu dan mas Catur yang nggak kalah gokil hingga tiba saat kami melakukan game kecil menegangkan! Hehehee.... salut punya deh untuk HW Watukebo, setiap game-nya yang harusnya menyenangkan itu, bagi saya malah kelihatan menyeramkan. Kok bisa? Seramnya kalau kena ‘zonk’ itu yang nyebelin. Di permainan saat itu kami duduk melingkar dan mulai bernyanyi lagu-lagu anak kecil, dari pelangi-pelangi sampai lagu balonku ada lima kemudian nggak kalah ‘Lek Wandra’ si biduan Banyuwangi ikut diseret-seret lagunya dengan genjrengan dari Aji yang emang lumayan pinter kalau soal nggenjreng gitar tapi minus kalau harus cas-cus pakek bahasa inggris yang baik dan benar pas di kelas. Wkwkwk. Bercanda deeh! Naaah kami nyanyi-nyanyi itu sambil menggilir sebuah botol plastik sedang dari tangan satu ke tangan yang lain dan konsekuensi ketika lagu itu berhenti di tangan satu orang yang terakhir memegangnya itulah yang ngeri. Kadang disuruh joget-joget lucu ala ‘watermelon-nya’ pak Hendro sampai ‘ayam mentok-mentok bebek-nya’ si uut yang emang hobi kalau harus nyanyi itu. heheee. Namun lain, konsekuensi saat itu adalah harus memimpin lagu yang dinyanyikan teman-teman, wiiih sedikit lega-lah ya! Heheee tapi tetap tidak bisa membiasakan saya yang sedikit malas untuk melakukan itu. malu rasanya! Dan kabar baiknya adalah saya lolos dari jebakan si pelangi-pelangi itu dan mulai ikut game baru yang sangat seru bagi kami dan termasuk bagi kalian-kalian yang nggak pernah main kejar-kejaran ala bollywood, di pantai pula! Sukuriiin! Hehee
Kalau ditanya permainan apa yang kami mainkan hingga mengundang adegan ala kejar-kejarannya bollywood, maka jawabannya adalah... kami memainkan permainan ala kerajaan yang melakukan ekspansi ke kerajaan sekitarnya. Semacam ‘siapa yang mencaplok siapa,maka ia jadi yang terkuat’. Permainan tidak langsung dimulai. Namun dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Yakni teman-teman yang mendapat ‘jatah’ zonk tadi segera berkumpul dan melakukan pengelompokan sebagai raja dan ratu untuk menjadi pemilik kerajaan lalu mereka dijelaskan cara kerja permainan oleh pak Arsyad. Sedangkan teman-teman lain yang lolos dari jebakan si pelangi-pelangi itu malah harus puas berdiri menunggu jemputan dari raja dan ratu kerajaan-kerajaan itu untuk jadi anggota mereka. Naah, kebetulannya pula, komunitas kami jadi satu di bawah Raja Tio dan Ratu riki! Heheee.. sedangkan panglima dipegang oleh Aldi yang memang jago lari. Kekalahanpun dibuktikan dengan direbutnya bendera kerajaan satu oleh kerajaan lainnya. Sialnya raja dan ratu kami tertangkap karena lagi bingung kehabisan taktik untuk kabur hingga menerima kesepakatan untuk bergabung dengan satu kerajaan yang dipimpin oleh si Raja Ferga dan Ratu Uut yang licik sampai bisa kabur dari sekapan kerajan kami! Hahaaa kocak pokoknya. Apalagi sebelumnya kami bisa mengakali kerajaan lain yang hendak merebut bendera kerajaan kami, dengan cara membuat bendera tiruan, sedangkan bendera asli di sembunyikan di tempat aman yang tak terlihat mata. Permainanpun semakin asyik dengan aturan waktu netral yang diberlakukan dimana seluruh raja dan ratu berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah atau memprotes, dll. Waktu benar-benar tak terasa menunjukkan pukul 23.00 WIB dan mengharuskan kami untuk segera beristirahat, apalagi tentunya seharusnya kami merasa nyaman untuk tidur dengan kemenangan koalisi yang terjalin antara 6 kerajaan yang menjadi satu dan dipimpin oleh Raja Ferga dan Ratu Uut. Wkwkwk!
Kamipun bersiap untuk tidur. Ada yang pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, makan, dll. Tempat ini lumayan nyaman dengan adanya fasilitas air bersih (tawar) dan kamar mandi yang bersih sebagai tempat untuk melakukan hajat dll. Sehingga kami yang memang tak pernah rewel soal mandi dan minum cukup bersyukur untuk itu. kami kira, kami memang harus tidur. Namun ternyata tidak, komunitas berburu mulai beraksi melihat jebakan yang dipasang sore tadi di sebuah lingkungan yang mirip rawa di dekat pantai. Kamipun ingin melihat sambil menikmati malam dengan suasana pantai di terangi lampu yang memang sudah mulai redup di dekat tempat mirip gazebo namun berkeramik. Malampun mulai larut dan saya peribadi, memutuskan untuk tidur duluan. Heheee.
Pagi, pada tanggal 16 Mei 2015 tentu menjadi pagi hari yang berbeda untuk saya. Karena pagi itu saya langsung disapa oleh deburan ombak dan angin semilir yang membawa bau khas pantai sambil menikmati wajah-wajah yang begitu segar selepas melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Selepas itupun kami bebas beraktifitas, termasuk bermain ke pantai, sarapan, bersih diri, dll. Kemudian sebelumnyapun kami melakukan aktifitas bersama, yakni kami melakukan senam bersama sambil dua orang yang saling bersisihan harus maju bersama untuk menjadi mentor di setiap satu gerakan yang memang harus mereka temukan, namun ada masalah antara saya dan Via yang memang posisinya sedang di samping saya. Apa? yakni kami memilki hajat untuk segera ke kamar mandi! Dan terjadilah kejar-mengejar waktu hingga kemudian kami maju dan membuat gelak tawa teman-teman lainnya dengan gerakan senam ala mengucek dan menjemur pakaian! Hehehe, kemudian pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul untuk melakukan aktifitas komunitas masing-masing. Seperti apa? ya tentunya untuk komunitas ternak dan komunitas berburu menjadi satu untuk melakukan perburuan demi mendapat jatah sarapan untuk komunitas mereka yang kebanyakan memang putra. Sedangkan untuk komunitas ilmu alam dan kuliner bergabung menjadi satu untuk mendapat materi dari pak Arsyad mengenai sumber makanan apa saja yang dapat ditemukan di dalam hutan, termasuk yang beracun maupun tidak beserta ciri-ciri dan wujudnya, kemudian ditunjukan pula trik-trik pemenuhan kebutuhan untuk manusia yang bisa digunakan untuk bertahan hidup di hutan, dan masih banyak lagi tentunya. Sedangkan komunitas komunikasi dicukupkan untuk melakukan kegiatan untuk mencari tau apa saja aktifitas yang komunitas lain lakukan lalu menyajikannya di sebuah laporan.
Masa materipun tak lama, kami segera digiring untuk bersiap merapikan barang-barang ke dalam tenda karena kami akan segera mengunjungi goa Jepang yang berada lumayan jauh dari lokasi berkemah pada pukul 12.00 WIB setelah shalat dhuhur. Sambil menelusuri jalan menuju goa Jepang itu kami diajari untuk menentukan titik koordinat lokasi kami menggunakan kompas dan sistem ukur yang cukup manual namun akurat patut dicoba sebagai ilmu. Sungguh menyenangkan memang, hingga pukul 14.00 WIB kami bergegas untuk merapikan bawaan, membongkar tenda, dan shalat ashar hingga kemudian menunggu jemputan truk yang menurut kesepakatan akan menjemput di sore hari. Masalahnya, waktu terus bergulir bahkan ditinggal main voli dan pak Arsyad serta pak Hendro yang bersedia melucu demi membuat kami tak merasa sebal dan tetap have a fun. Dan apa yang terjadi? Kami menunggu hingga pukul 16.30 WIB. Saat itulah truk datang, kamipun cukup lega tanpa uring-uringan karena sepaham kami bahwa supir truk dan kami mengalami kesalah pahaman yang menyebabkan si sopir baru sampai pukul 16.30 WIB, sama dengan waktu saat kami sampai pula di Bandealit pertama kalinya. Haha! Namun bagaimanapun, kami masih memiliki sisa menyenangkan dalam perjalan. Masih dengan kera yang bergelantungan, melihat babi hutan yang besar, dan bahkan merasakan gelapnya hutan sambil terus berdo’a karena truk tentunya melewati jalan yang sempit dan curam yang memang harus mengalah dengan kendaraan satu dengan yang lain agar bisa lewat di jalan yang kecil dan di kanan-kirinya terkadang cukup ada jurang yang dalam. Namun, yang paling luar biasa buat saya adalah ketika melihat kerlipan cahaya yang mulai nampak indah di kegelapan malam, tentu kita menyebutnya kunang-kunang. Maklumlah, terakhir kali saya melihat kunang-kunang adalah ketika saya duduk di kelas 1 SD di rumah nenek, hingga kemudian... entah kemana kunang-kunang itu. lalu tak kalah indah juga pemandangan yang tersaji di dataran bawah yang menyajikan kerlipan cantik dari lampu-lampu milik penduduk yang berkelip. Seperti taman bintang tentunya. Kemudian lucunya adalah ketika saya dan teman-teman hampir sampai di rumah pak Arsyad, kenapa? Karena banyak diantara kami ingin mengulang lagi perjalanan “kurang suwiiii!” itu kata mereka! Hehe. Dan pada akhirnya, saya sampai di rumah pukul 20.00 WIB sambil menyimpan banyak kenangan yang tentunya tak hanya yang saya tulis saja. Masih banyak hal yang tak saya tulis sebagai kenangan yang memang hanya pantas untuk saya simpan sendiri! Hehe, jangan kepo ya!!!

Laporan : Fitriah Ika Sari.