Sabtu, 28 Maret 2015

Komunitasmu mana?

“5 Komunitas Keren”
Siapa yang tidak memahami maksud dari komunitas? Komunitas adalah suatu perkumpulan baik kecil ataupun besar jumlahnya yang disatukan dengan satu tujuan atau kesamaan hingga menyebabkan keakraban dan kerukunan yang dibuktikan dengan adanya kegiatan atau aktifitas yang berkaitan dengan hobi, dll.
Nah, kenapa kita bicarakan soal komunitas disini? Ternyata Penghela Watukebo memiliki BKM (Bina Karya Mandiri) yang dibentuk sebagai wadah untuk para penghela menentukan dan mengembangkan kemampuannya.
Penghela Watukebo sendiri memiliki 5 komunitas, yakni komunitas berburu, komunitas ternak, komunitas kuliner, komunitas ilmu alam, dan komunitas komunikasi. Selanjutnya masri kita bahas bagaimana cara kerja 5 komunitas ini, ;

1.         Komunitas Berburu
Diajarkan untuk mampu menjebak hewan, berburu tangan, ataupun berburu di dalam air maupun di atas daratan. Tak lupa disertai dengan tekhnik-tekhnik agar berhasil menjebak hewan, dll.

2.         Komunitas Ternak
Yang dimaksudkan disini adalah kegiatan teman-teman untuk membudiyakan.

3.         Komunitas Kuliner
Namanya juga kuliner, pasti urusannya tentang masak dan makanan! Heheheeee...

4.         Komunitas Ilmu Alam
                 Yakni komunitas yang mempelajari tentang  pengetahuan alam, sepeti perbintangan, dll.

5.         Komunitas Komunikasi
             Komunitas ini cenderung harus menguasi media sosial dan pengetahuan-pengetahuan mengenai dunia ‘pengetikan’ dan ‘pembuatanan cerita’ secara kreatif dan komunikatif.


Nah, semoga informasi kami bermanfaat! 

Selasa, 10 Maret 2015

Uji Nyali Ala HW Watukebo Setiap Jelajah Malam, Ketepak'an lagi Penyematan Resmi

“Penyematan Resmi Pandu Penghela yang Begitu Mengesankan”

Setelah diadakan pelantikan pertama penghela tingkat TM 1 yang dilaksanakan di Gunung Ijen dan pelantikan susulan yang diadakan di Pontang pada waktu yang lalu menyisakan penyematan secara resmi yang bertempat di MIM 02 PONTANG.
Acara dimulai dengan pembukaan yang dilanjutkan dengan ‘ceramah asyik’ dari Bapak Samanan yang mengangkat tema tentang kaderisasi yang mengundang gelak tawa karena disampaikan dengan santai dan begitu ‘welcome’. Selanjutnya, acara diteruskan dengan persiapan melaksanakan penyematan yang berlangsung di desa Karang Tengah. Para peserta penyematan mengendarai kendaraan masing-masing menuju lokasi penyematan pada pukul 21.00 WIB.
Para peserta penyematan tidak digiring langsung menuju lokasi penyematan, tapi para peserta digiring ke sebuah masjid terlebih dahulu, sembari menunggu hingga panitia menyiapkan mereka untuk berangkat menuju lokasi penyematan. Ada sedikit aturan yang berlaku setiap para pandu HW Watukebo beraksi untuk melakukan penjelajahan malam! Yakni, tak boleh berisik, jaga lisan, tangan, dan kaki agar tak mengganggu masyarakat setempat serta rajin-rajin berdo’a dan tak boleh membiarkan pikiran kosong! Nah disini nih yang selalu membuat jantung dag-dig-dug-deeeer! Yang benar saja! Bagaimana enggak? Suasana begitu sepi dan hanya terdengar lolongan anjing yang memang sebagai bukti bahwa di sekeliling lingkungan penyematan terdapat banyak anjing liar yang siap mengejar! Apalgi gelap gulita dan hanya ada satu lilin/penerangan sebagai petunjuk jalan yang terletak di sepanjang jalan! Tak ad senter, dll! Seru kaaan! Uji nyali! Naah... di sepanjang jalan itulah terdapat pos-pos yang memang wajib disinggahi, disana ada pembekalan materi, uji materi, dll hingga pada pos terakhir para peserta penghela tersebut diwajibkan berjalan seorang diri dan terpisah dengan kawan-kawan lainnya. Pernah kerasa nggak, jalan sendirian ngelewatin rerimbunan pohon dan ilalang tinggi sambil ada ‘gangguan’ nyebelin yang dibuat-buat serem? Apalagi kalau ternyata tempat yang dituju adalah ‘rumah masa depan kita’ yang gak lain adalah kuburan! Dan akhirnya para peserta pasrah dan berserah untuk terus berupaya mencari bukti penyematan yang memang di sebar di satu titik yang ‘menyeramkan’. Hehe. Setelah kami berhasil mengambil apa yang kami cari, barulah kami dikumpulkan dan segera melaksanakan penyematan dengan seragam lengkap dan hati yang begitu lega serta menahan dingin yang mulai menggerayangi badan yang lelah, maklum.. jam menunjukkan hampir dini hari saat itu. yang begitu menambah kekhusyu’an adalah ketika ad seorang panitia yang membacakan sebuah puisi yang menambah getaran hati yang begitu lega dan terpukau sambil menyanyikan lagu “Syukur”. Tak lupa juga ada banyak evaluasi sebagai PR dan wanti-wanti kepada para penghela yang telah melaksanakan penyematan.

Begitulah, bagaimana? Asyik bukan? Semoga dapat menambah rasa ingin tahu pembaca dan dapat bermanfaat untuk khalayak! Jangan sungkan untuk mengunjungi kami. We are HW Watukebo!