Senin, 18 Mei 2015

Ada HW di Bandealit, Antara Bollywood Hingga Balonku

“Akhirnya Liburan di Bandealit”
Pada tanggal 15 Mei 2015 saya merasakan pengalaman yang luar biasa menyenangkan. Bagaimana tidak? Jika saya dan teman-teman dapat merasakan pengalaman yang menyenangkan di Bandealit yang merupakan salah satu tujuan wisata alam khusus yang ada di Taman Nasional Meru Betiri yang lokasinya berada di kabupaten Jember bagian selatan.
Nggak sabar ngerasain liburan yang menyenangkan itu, saya dan teman-temanpun segera berkumpul ba’da dhuhur di kediaman pak Arsyad. Sangking semangatnya itulah mungkin kelihatan ‘terlalu dini’ dengan dibuktikan keberangkatan dimulai pukul 14.00 WIB karena ada berbagai hal yang perlu diurus. Yang lebih ‘amazing’ lagi adalah transportasi yang kami gunakan untuk menuju lokasi tempat wisata Bandealit adalah truk yang cukup hebat untuk membuat kami terguncang kanan-kiri-depan-belakang karena perjalanan yang dituju bukan lokasi biasa, jalan berlubang-hingga tak beraspal-pun jadi! Apalagi ada jalanan yang menanjak-hingga belokan yang ‘mengerikan’. Tapi di semua sensasi jalan yang membuat saya sangat senang adalah ketika melewati areal hutan yang nggak nyangka rombongan kami disambut dengan segerombolan kera yang kelihatan menakutkan! Wiiiissssh... kok bisa? Bagaimana tidak menakutkan jika kera-kera itu terus bersuara gaduh dan berlarian diatas kami seperti merasakan ketidak-nyamanan atas kedatangannya kami. Nah! Lagi-lagi, bukannya lebay ya! Masalahny, kondisi memungkinkan si kera-kera yang berukuran ‘mantap’ itu bisa saja turun tepat di tempat yang mengangkut kami ini karena truk kami memang harus berhenti di depan pos jaga, mungkin ada hal-hal yang harus diurus. Namun tak lama, truk kami mulai berjalan dengan sedikit ‘maksa’ dan hati-hati karena jalan mulai menyiut dan berat dengan tanjakan yang nggak kalah seram.
Sisa perjalanan dengan syukur kami rasakan hingga dapat kami rasakan pasir pantai Bandealit yang mulai menyapa sepatu atau sandal-sandal kami, bahkan teman-teman yang lain langsung saja melepas sepatu dan sandal mereka. Langsung, lari ke laut! Hahahaaa! Maklum, kami sampai di lokasi tepat pukul 16.30 WIB. Tapi kesenangan teman-teman memang harus ditunda terlebih dahulu. Kami harus berkumpul dan mulai mendirikan tenda-tenda yang memang diperuntukkan untuk setiap komunitas. Kebetulan jumlah komunitas komunikasi ‘pas’ untuk satu tenda kecil, yakni 5 orang, satu absen karena urusan keluarga. Sorepun mulai ‘nyingkrih’ diganti malam, terlihat rona oranye yang mulai memudar, disinilah saya dan teman-teman sekomunitas merasakan ‘apes’ yang teramat sangat. Why? Masalahnya tenda yang kami dirikan tidak segera berdiri karena kurang telaten dengan model tenda yang kami anggap menyusahkan. “laaah wong kene masang iki, lha kok seng kono ucul. Rumangsane lhee.. kesel.” Kata rekan sekomunitas saya, haha! Ingat betul. Bukannya apa, masalahnya, Cuma tenda kami yang saingan dengan tenda sebelah yang sama-sama ‘mendirikan sendiri’ tapi nggak jadi-jadi. Hehe. Akhirnyalah kakak-kakak yang baik hati (katanya, hehee) bersedia membantu dibarengi dengan gojlokan pak Hendro yang menyebalkan karena tenda kami yang tak cepat berdiri.
nah, selepas tenda kami yang alhamdulillah akhirnya berdiri itu, kami segera bersih diri dan mulai melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Hmm, melihat teman-teman dengan rona bahagia dan khusyu’ melaksanakan shalat berjama’ah membuat pengalaman saya di tempat itu menjadi lebih lengkap. Suara deburan ombak, bau asin yang menguat, dan pasir pantai yang menyenangkan mulai menemani dan harus akrab dengan kami memang sejak kami datang lalu disusul dengan pemberian materi setelah melaksanakan shalat isya’ berjamaah yang cukup seru yang dibawakan oleh pak Arsyad, lalu pak Hendro sebagai ‘pelengkap’ orang lucu dan mas Catur yang nggak kalah gokil hingga tiba saat kami melakukan game kecil menegangkan! Hehehee.... salut punya deh untuk HW Watukebo, setiap game-nya yang harusnya menyenangkan itu, bagi saya malah kelihatan menyeramkan. Kok bisa? Seramnya kalau kena ‘zonk’ itu yang nyebelin. Di permainan saat itu kami duduk melingkar dan mulai bernyanyi lagu-lagu anak kecil, dari pelangi-pelangi sampai lagu balonku ada lima kemudian nggak kalah ‘Lek Wandra’ si biduan Banyuwangi ikut diseret-seret lagunya dengan genjrengan dari Aji yang emang lumayan pinter kalau soal nggenjreng gitar tapi minus kalau harus cas-cus pakek bahasa inggris yang baik dan benar pas di kelas. Wkwkwk. Bercanda deeh! Naaah kami nyanyi-nyanyi itu sambil menggilir sebuah botol plastik sedang dari tangan satu ke tangan yang lain dan konsekuensi ketika lagu itu berhenti di tangan satu orang yang terakhir memegangnya itulah yang ngeri. Kadang disuruh joget-joget lucu ala ‘watermelon-nya’ pak Hendro sampai ‘ayam mentok-mentok bebek-nya’ si uut yang emang hobi kalau harus nyanyi itu. heheee. Namun lain, konsekuensi saat itu adalah harus memimpin lagu yang dinyanyikan teman-teman, wiiih sedikit lega-lah ya! Heheee tapi tetap tidak bisa membiasakan saya yang sedikit malas untuk melakukan itu. malu rasanya! Dan kabar baiknya adalah saya lolos dari jebakan si pelangi-pelangi itu dan mulai ikut game baru yang sangat seru bagi kami dan termasuk bagi kalian-kalian yang nggak pernah main kejar-kejaran ala bollywood, di pantai pula! Sukuriiin! Hehee
Kalau ditanya permainan apa yang kami mainkan hingga mengundang adegan ala kejar-kejarannya bollywood, maka jawabannya adalah... kami memainkan permainan ala kerajaan yang melakukan ekspansi ke kerajaan sekitarnya. Semacam ‘siapa yang mencaplok siapa,maka ia jadi yang terkuat’. Permainan tidak langsung dimulai. Namun dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Yakni teman-teman yang mendapat ‘jatah’ zonk tadi segera berkumpul dan melakukan pengelompokan sebagai raja dan ratu untuk menjadi pemilik kerajaan lalu mereka dijelaskan cara kerja permainan oleh pak Arsyad. Sedangkan teman-teman lain yang lolos dari jebakan si pelangi-pelangi itu malah harus puas berdiri menunggu jemputan dari raja dan ratu kerajaan-kerajaan itu untuk jadi anggota mereka. Naah, kebetulannya pula, komunitas kami jadi satu di bawah Raja Tio dan Ratu riki! Heheee.. sedangkan panglima dipegang oleh Aldi yang memang jago lari. Kekalahanpun dibuktikan dengan direbutnya bendera kerajaan satu oleh kerajaan lainnya. Sialnya raja dan ratu kami tertangkap karena lagi bingung kehabisan taktik untuk kabur hingga menerima kesepakatan untuk bergabung dengan satu kerajaan yang dipimpin oleh si Raja Ferga dan Ratu Uut yang licik sampai bisa kabur dari sekapan kerajan kami! Hahaaa kocak pokoknya. Apalagi sebelumnya kami bisa mengakali kerajaan lain yang hendak merebut bendera kerajaan kami, dengan cara membuat bendera tiruan, sedangkan bendera asli di sembunyikan di tempat aman yang tak terlihat mata. Permainanpun semakin asyik dengan aturan waktu netral yang diberlakukan dimana seluruh raja dan ratu berkumpul untuk membicarakan masalah-masalah atau memprotes, dll. Waktu benar-benar tak terasa menunjukkan pukul 23.00 WIB dan mengharuskan kami untuk segera beristirahat, apalagi tentunya seharusnya kami merasa nyaman untuk tidur dengan kemenangan koalisi yang terjalin antara 6 kerajaan yang menjadi satu dan dipimpin oleh Raja Ferga dan Ratu Uut. Wkwkwk!
Kamipun bersiap untuk tidur. Ada yang pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, makan, dll. Tempat ini lumayan nyaman dengan adanya fasilitas air bersih (tawar) dan kamar mandi yang bersih sebagai tempat untuk melakukan hajat dll. Sehingga kami yang memang tak pernah rewel soal mandi dan minum cukup bersyukur untuk itu. kami kira, kami memang harus tidur. Namun ternyata tidak, komunitas berburu mulai beraksi melihat jebakan yang dipasang sore tadi di sebuah lingkungan yang mirip rawa di dekat pantai. Kamipun ingin melihat sambil menikmati malam dengan suasana pantai di terangi lampu yang memang sudah mulai redup di dekat tempat mirip gazebo namun berkeramik. Malampun mulai larut dan saya peribadi, memutuskan untuk tidur duluan. Heheee.
Pagi, pada tanggal 16 Mei 2015 tentu menjadi pagi hari yang berbeda untuk saya. Karena pagi itu saya langsung disapa oleh deburan ombak dan angin semilir yang membawa bau khas pantai sambil menikmati wajah-wajah yang begitu segar selepas melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Selepas itupun kami bebas beraktifitas, termasuk bermain ke pantai, sarapan, bersih diri, dll. Kemudian sebelumnyapun kami melakukan aktifitas bersama, yakni kami melakukan senam bersama sambil dua orang yang saling bersisihan harus maju bersama untuk menjadi mentor di setiap satu gerakan yang memang harus mereka temukan, namun ada masalah antara saya dan Via yang memang posisinya sedang di samping saya. Apa? yakni kami memilki hajat untuk segera ke kamar mandi! Dan terjadilah kejar-mengejar waktu hingga kemudian kami maju dan membuat gelak tawa teman-teman lainnya dengan gerakan senam ala mengucek dan menjemur pakaian! Hehehe, kemudian pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul untuk melakukan aktifitas komunitas masing-masing. Seperti apa? ya tentunya untuk komunitas ternak dan komunitas berburu menjadi satu untuk melakukan perburuan demi mendapat jatah sarapan untuk komunitas mereka yang kebanyakan memang putra. Sedangkan untuk komunitas ilmu alam dan kuliner bergabung menjadi satu untuk mendapat materi dari pak Arsyad mengenai sumber makanan apa saja yang dapat ditemukan di dalam hutan, termasuk yang beracun maupun tidak beserta ciri-ciri dan wujudnya, kemudian ditunjukan pula trik-trik pemenuhan kebutuhan untuk manusia yang bisa digunakan untuk bertahan hidup di hutan, dan masih banyak lagi tentunya. Sedangkan komunitas komunikasi dicukupkan untuk melakukan kegiatan untuk mencari tau apa saja aktifitas yang komunitas lain lakukan lalu menyajikannya di sebuah laporan.
Masa materipun tak lama, kami segera digiring untuk bersiap merapikan barang-barang ke dalam tenda karena kami akan segera mengunjungi goa Jepang yang berada lumayan jauh dari lokasi berkemah pada pukul 12.00 WIB setelah shalat dhuhur. Sambil menelusuri jalan menuju goa Jepang itu kami diajari untuk menentukan titik koordinat lokasi kami menggunakan kompas dan sistem ukur yang cukup manual namun akurat patut dicoba sebagai ilmu. Sungguh menyenangkan memang, hingga pukul 14.00 WIB kami bergegas untuk merapikan bawaan, membongkar tenda, dan shalat ashar hingga kemudian menunggu jemputan truk yang menurut kesepakatan akan menjemput di sore hari. Masalahnya, waktu terus bergulir bahkan ditinggal main voli dan pak Arsyad serta pak Hendro yang bersedia melucu demi membuat kami tak merasa sebal dan tetap have a fun. Dan apa yang terjadi? Kami menunggu hingga pukul 16.30 WIB. Saat itulah truk datang, kamipun cukup lega tanpa uring-uringan karena sepaham kami bahwa supir truk dan kami mengalami kesalah pahaman yang menyebabkan si sopir baru sampai pukul 16.30 WIB, sama dengan waktu saat kami sampai pula di Bandealit pertama kalinya. Haha! Namun bagaimanapun, kami masih memiliki sisa menyenangkan dalam perjalan. Masih dengan kera yang bergelantungan, melihat babi hutan yang besar, dan bahkan merasakan gelapnya hutan sambil terus berdo’a karena truk tentunya melewati jalan yang sempit dan curam yang memang harus mengalah dengan kendaraan satu dengan yang lain agar bisa lewat di jalan yang kecil dan di kanan-kirinya terkadang cukup ada jurang yang dalam. Namun, yang paling luar biasa buat saya adalah ketika melihat kerlipan cahaya yang mulai nampak indah di kegelapan malam, tentu kita menyebutnya kunang-kunang. Maklumlah, terakhir kali saya melihat kunang-kunang adalah ketika saya duduk di kelas 1 SD di rumah nenek, hingga kemudian... entah kemana kunang-kunang itu. lalu tak kalah indah juga pemandangan yang tersaji di dataran bawah yang menyajikan kerlipan cantik dari lampu-lampu milik penduduk yang berkelip. Seperti taman bintang tentunya. Kemudian lucunya adalah ketika saya dan teman-teman hampir sampai di rumah pak Arsyad, kenapa? Karena banyak diantara kami ingin mengulang lagi perjalanan “kurang suwiiii!” itu kata mereka! Hehe. Dan pada akhirnya, saya sampai di rumah pukul 20.00 WIB sambil menyimpan banyak kenangan yang tentunya tak hanya yang saya tulis saja. Masih banyak hal yang tak saya tulis sebagai kenangan yang memang hanya pantas untuk saya simpan sendiri! Hehe, jangan kepo ya!!!

Laporan : Fitriah Ika Sari.

Kamis, 16 April 2015

JAMPALA UNMUH JEMBER 3-5 APRIL 2015

JAMPALA UNMUH JEMBER 3-5 APRIL 2015

Pada tanggal 3-5 April 2015, telah berlangsung Jambore pandu penghela yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember. Peserta yang hadir cukup banyak, yakni dari Watukebo, Banyuwangi, Ambulu, Bondowoso, Situbondo, dll.
Acarapun tetap runtut dan menyenangkan. Tanggal 3 April 2015, acara dimulai dengan pembukaan yang khusyu’ dengan diiringi Drum Band HW Jember saat dilaksanakan Upacar dan kemudian pertemuan antar perwakilan qobilah sore harinya untuk memberi informasi atau keterangan dari panitia berkaitan dengan kegiatan perkemahan.

JAMPALA UNMUH Jember menekankan perkemahan sapi. Maksudnya yaitu, satuan terpisah antara putra dan putri supaya menjadi tauladan untuk memahami adanya perbedaan antara putra dan putri sebagai suatu upaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitupun dengan kategori perlombaan yang diujikan, seperti jika putra ada perlombaan futsal, maka sebaliknya perlombaan putri tidak ada. Materi perlombaan yang diadakanpun sangat bervariasi, ada; cerdas cermat, kedisiplinan waktu, yel-yel, futsal, kreasi seni, karya ilmiah, dan masih banyak lagi.

Sabtu, 28 Maret 2015

Komunitasmu mana?

“5 Komunitas Keren”
Siapa yang tidak memahami maksud dari komunitas? Komunitas adalah suatu perkumpulan baik kecil ataupun besar jumlahnya yang disatukan dengan satu tujuan atau kesamaan hingga menyebabkan keakraban dan kerukunan yang dibuktikan dengan adanya kegiatan atau aktifitas yang berkaitan dengan hobi, dll.
Nah, kenapa kita bicarakan soal komunitas disini? Ternyata Penghela Watukebo memiliki BKM (Bina Karya Mandiri) yang dibentuk sebagai wadah untuk para penghela menentukan dan mengembangkan kemampuannya.
Penghela Watukebo sendiri memiliki 5 komunitas, yakni komunitas berburu, komunitas ternak, komunitas kuliner, komunitas ilmu alam, dan komunitas komunikasi. Selanjutnya masri kita bahas bagaimana cara kerja 5 komunitas ini, ;

1.         Komunitas Berburu
Diajarkan untuk mampu menjebak hewan, berburu tangan, ataupun berburu di dalam air maupun di atas daratan. Tak lupa disertai dengan tekhnik-tekhnik agar berhasil menjebak hewan, dll.

2.         Komunitas Ternak
Yang dimaksudkan disini adalah kegiatan teman-teman untuk membudiyakan.

3.         Komunitas Kuliner
Namanya juga kuliner, pasti urusannya tentang masak dan makanan! Heheheeee...

4.         Komunitas Ilmu Alam
                 Yakni komunitas yang mempelajari tentang  pengetahuan alam, sepeti perbintangan, dll.

5.         Komunitas Komunikasi
             Komunitas ini cenderung harus menguasi media sosial dan pengetahuan-pengetahuan mengenai dunia ‘pengetikan’ dan ‘pembuatanan cerita’ secara kreatif dan komunikatif.


Nah, semoga informasi kami bermanfaat! 

Selasa, 10 Maret 2015

Uji Nyali Ala HW Watukebo Setiap Jelajah Malam, Ketepak'an lagi Penyematan Resmi

“Penyematan Resmi Pandu Penghela yang Begitu Mengesankan”

Setelah diadakan pelantikan pertama penghela tingkat TM 1 yang dilaksanakan di Gunung Ijen dan pelantikan susulan yang diadakan di Pontang pada waktu yang lalu menyisakan penyematan secara resmi yang bertempat di MIM 02 PONTANG.
Acara dimulai dengan pembukaan yang dilanjutkan dengan ‘ceramah asyik’ dari Bapak Samanan yang mengangkat tema tentang kaderisasi yang mengundang gelak tawa karena disampaikan dengan santai dan begitu ‘welcome’. Selanjutnya, acara diteruskan dengan persiapan melaksanakan penyematan yang berlangsung di desa Karang Tengah. Para peserta penyematan mengendarai kendaraan masing-masing menuju lokasi penyematan pada pukul 21.00 WIB.
Para peserta penyematan tidak digiring langsung menuju lokasi penyematan, tapi para peserta digiring ke sebuah masjid terlebih dahulu, sembari menunggu hingga panitia menyiapkan mereka untuk berangkat menuju lokasi penyematan. Ada sedikit aturan yang berlaku setiap para pandu HW Watukebo beraksi untuk melakukan penjelajahan malam! Yakni, tak boleh berisik, jaga lisan, tangan, dan kaki agar tak mengganggu masyarakat setempat serta rajin-rajin berdo’a dan tak boleh membiarkan pikiran kosong! Nah disini nih yang selalu membuat jantung dag-dig-dug-deeeer! Yang benar saja! Bagaimana enggak? Suasana begitu sepi dan hanya terdengar lolongan anjing yang memang sebagai bukti bahwa di sekeliling lingkungan penyematan terdapat banyak anjing liar yang siap mengejar! Apalgi gelap gulita dan hanya ada satu lilin/penerangan sebagai petunjuk jalan yang terletak di sepanjang jalan! Tak ad senter, dll! Seru kaaan! Uji nyali! Naah... di sepanjang jalan itulah terdapat pos-pos yang memang wajib disinggahi, disana ada pembekalan materi, uji materi, dll hingga pada pos terakhir para peserta penghela tersebut diwajibkan berjalan seorang diri dan terpisah dengan kawan-kawan lainnya. Pernah kerasa nggak, jalan sendirian ngelewatin rerimbunan pohon dan ilalang tinggi sambil ada ‘gangguan’ nyebelin yang dibuat-buat serem? Apalagi kalau ternyata tempat yang dituju adalah ‘rumah masa depan kita’ yang gak lain adalah kuburan! Dan akhirnya para peserta pasrah dan berserah untuk terus berupaya mencari bukti penyematan yang memang di sebar di satu titik yang ‘menyeramkan’. Hehe. Setelah kami berhasil mengambil apa yang kami cari, barulah kami dikumpulkan dan segera melaksanakan penyematan dengan seragam lengkap dan hati yang begitu lega serta menahan dingin yang mulai menggerayangi badan yang lelah, maklum.. jam menunjukkan hampir dini hari saat itu. yang begitu menambah kekhusyu’an adalah ketika ad seorang panitia yang membacakan sebuah puisi yang menambah getaran hati yang begitu lega dan terpukau sambil menyanyikan lagu “Syukur”. Tak lupa juga ada banyak evaluasi sebagai PR dan wanti-wanti kepada para penghela yang telah melaksanakan penyematan.

Begitulah, bagaimana? Asyik bukan? Semoga dapat menambah rasa ingin tahu pembaca dan dapat bermanfaat untuk khalayak! Jangan sungkan untuk mengunjungi kami. We are HW Watukebo! 

Kamis, 29 Januari 2015

Hizbul Wathan seru!

PELANTIKAN susulan bagi Penghela Taruna Melati 1
Meneruskan pelantikan Taruna Melati 1 yang diadakan oleh HW KwarCab Watukebo pada bulan Desember di Kawasan Ijen lalu, HW KwarCab Watukebo mengadakan pelantikan susulan bagi Penghela yang tidak mengikuti acara pelantikan di Kawasan Ijen pada pertengahan Januari lalu dan dilaksanakan di daerah Pontang.
Pelantikan susulan ini begitu unik. Mengapa? Karena bukan hanya sekedar pelantikan  biasa yang mengundang formalitas dan ketegangan. Sebaliknya, pelantikan susulan ini dilaksanakan dengan jenaka dan mengundang gelak tawa. Setelah melakukan pembukaan, para penghela yang belum dilantik tersebut melakukan persiapan untuk menghadapi ujian terlebih dahulu. Para penghela yang belum dilantik tersebut meliputi penghela putra maupun putri berjumlah 10 orang. Ujian yang mereka dapat adalah harus mengambil lencana/bukti pelantikan yang diletakkan di dalam plastik kemudian diikatkan di ranting pohon yang menjorok ke sungai yang berairan deras. Sedikit ektrem memang, namun aman. Mengapa? Karena panitia telah menyediakan orang-orang yang disiapkan untuk menyelamatkan para penghela yang memang tercebur hingga tak bisa berenang, tentunya sebelumnya ada pembekalan terlebih dahulu bagaimana cara menempatkan posisi tubuh yang benar dan tepat ketika tercebur agar tak berdebam ke dasar sungai yang dalam.
Dengan keteguhan yang sedikit dipaksakan, para penghela yang mengikuti pelantikan susulan tersebut mulai mengambil batang-batang bambu yang disiapkan oleh panitia. Mereka harus bahu membahu saling menolong agar mendapatkan bukti pelantikan tersebut. Banyak gelak tawa yang terdengar ketika itu karena ada saja tingkah peserta pelantikan penghela yang lucu, bahkan sampai tercebur hingga 2-3 kali.
Adapun kesulitan yang dirasakan oleh para peserta adalah menemukan cara yang efektif untuk membawa plastik-plastik tu mendekat ke arah mereka. Mereka hanya saling memegangi batang bambu yang dibentuk seperti jembatan satu rua saja, lalu berusaha meraih plastik-plastik itu dengan tanpa menggunakan alat sama sekali, istilanhnya ‘kosongan’ lah yo! Hehe.. hingga pada ujung acara yakni penutupan, sempat ditanya oleh panitia, “kenapa tidak kalian gunakan batang-batang bambu itu untuk menyeret plastik-plastik itu? daripada mengambil plastik-plastik itu dengan cara meraihnya? Kan kalian nggak mungkin sampai basah kuyup kayak gitu?” . hahaa! Semua terdiam dengan berfikir, lalu terhentaklah semua orang dengan suara tawa yang susul-menyusul dan menyadari bahwa problem yang ada di depan mata tak harus diselesaikan dengan cara yang rumit hanya karena terkecoh satu petunjuk.

Semoga bermanfaat!

Minggu, 25 Januari 2015

Ketemu IJEN gara-gara Hizbul Wathan

Siapa sih yang gak tau gunung Ijen? Tempat wisata yang ada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Nah yang paling amazing menurut para wisatawan lokal maupun internasional adalah fenomena pada kawah ijen. Yakni, dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru, yang merupakan keunikan tempat ini setiap 02.00-04.00 WIB, karena pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Islandia dan Ijen. Luar biasa bukan? Amazing kan?
Pada bulan Desember 2014, Pandu penghela HW KwarCab Watukebo berkesempatan mengunjungi kawasan Ijen hingga melakukan pendakian sampai ke kawah dan menikmati liburan yang menyenangkan tersebut. Berikut merupakan lapora perjalanan dari kami, :

IJEN, PENDAKIAN PERTAMA KE TEMPAT JAUH”
Hasil Laporan Perjalanan : Fitriah Ika Sari
Pada hari Rabu, 24 Desember 2014 lalu saya memiliki pengalaman yang asyik dan menyenangkan bersama rombongan HW Penghela KwarCab Watukebo dalam rangka Pelantikan Penghela tingkat Taruna Melati 1 di area Gunung Ijen (2.443 m) yang adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.
Nah Rabu pagi itu, rombongan kami yang kurang lebih berjumlah lebih dari 20-30 orang sudah mulai berkumpul (Rumah Pak Arsyad,Watukebo) pukul 09.00 WIB dengan segala persiapan yang mantap. Namun keberangkatan kami molor karena mengurus registrasi biaya hingga kami berangkat pukul 11.00 WIB menggunakan sebuah truk. Waktu yang kami tempuh menuju area Gunung Ijen sekitar 5-6 jam itu membuat saya dan rombongan merasakan sensasi yang mantap yaitu terbanting-banting (dari kiri ke kanan atau dari depan ke belakang , dan sebaliknya),merasa kepayahan di area perut , duduk dan tidur dengan terjepit-jepit, berdiri hingga kesemutan, bingung karna air hujan yang muncrat ke dalam truk,, dll. Namun kami tetap merasakan semangat juang dan tak mau kalah dengan senior kami yang masih bersemangat meskipun umurnya sudah sepuh.
Dengan segala perjuangan di dalam truk yang penuh sensasi itu, akhirnya kami berhenti dan me-refresh perut dan badan kami sejenak dengan mengunjungi sebuah air terjun, yaitu Air Terjun Kali Pahit yang memiliki bentuk air terjun yang memanjang beraliran seperti sungai tetapi mengalir dari atas memalui jalur yang terbentuk alami diantara bebatuan pegunungan. Air disini memiliki warna kuning kehijauan mengandung belerang yang sangat tinggi. Menurut informasi, air terjun ini merupakan rembesan dari Kawah Ijen. Udara yang dingin langsung menyengat kulit kami yang sebelumnya merasakan gerah tak berkesudahan di dalam truk. Setelah terasa cukup waktu santai yang kami habiskan untuk sekedar duduk santai dan berfoto ria, kami segera meneruskan perjalanan kami yang ‘katanya’ sedikit kebablas melewati objek yang kami tuju.
Tak lama, sekitar pukul 17.00 WIB, saya dan rombongan sampai di tempat tujuan kami, dan segera melarikan diri menuju kamar mandi umum terdekat untuk sekedar wudhu’ atau menyelesaikan kebutuhan pribadi. Secara pribadi, saya merasa ‘amazing’  saat pertama kali turun dari truk, yaitu ketika uap tercipta setelah saya ataupun yang lainnya berbicara dan dibarengi dengan suhu yang dingin juga bahkan air yang dingin ketika disentuh. Semuanya terasa dingin! Dan kami berusaha beradaptasi.
Banyak hal yang terasa menyenangkan ketika sampai di area Gunung Ijen pertama kali. Seperti makan bersama-sama seusai melaksanakan shalat jama’ah, mendapat sedikit ilmu tentang ‘kabut’ dari pak Agus, dll. Bahkan dinginnya kawasan Gunung Ijen-pun terasa menyenangkan ditambah lagi dengan pengalaman konyol yang saya rasakan bersama kawan saya yaitu Novita Sepdiana Putri dan ditemani oleh Mbak Nadya ketika membeli Pete atas suruhan dari pak Heri, pak Hendro, Mas Catur, dll. Dengan PD-nya kami berjalan sambil membawa uang yang hanya sebesar Rp 2000,00 menuju toko yang menawarkan beberapa ikat pete yang kelihatan bagus dan lezat bagi penikmatnya, juga terlihat gagah dan mahal. Teganya, pete yang terlihat gagah dan mahal itu benar-benar mahal dan hanya senilai 1 utas pete saja. Kami yang sudah merasa malu dan hanya bisa tertawa, hanya mampu berucap sebal kepada pak Hendro dkk.
Setelah insiden sore itu, saya dan rombongan melaksanakan shalat berjama’ah dan kegiatan santai lainnya untuk menyiapkan diri agar keadaan tetap fit untuk pendakian ke Gunung Ijen. Banyak kegiatan santai yang bisa kami habiskan di tempat istirahat kami yang seperti balai pertemuan di dalam area lapangan kawasan; seperti perencanaan pendakian, memahami ilmu perbintangan dan tanda alam yang disampaikan Pak Arsyad, minum kopi, mendengar musik, masak mie instan,membuat api unggun,  makan jagung bakar, bahkan berfoto-foto ria hingga kami beristirahat sekitar pukul 22.00 WIB.
Keesokannya , sesuai kesepakatan bersama, pendakian dipersiapkan sekitar pukul 01.00 WIB. Kemudian kami mulai memasuki area pendakian sekitar pukul 01.45 WIB setelah mengurus tiket masuk. Udara mulai terasa dingin dan perjalanan mulai terasa berat apalagi sambil membawa tas punggung yang membebani dan geregetan untuk membuang tas punggung tersebut, ketika merasa lelah dan merasa tidak kuat mendaki jalan yang mulai menanjak. Banyak kawan-kawan lainnya yang merasakan kram dan tidak kuat mendaki sampai ke puncak Ijen, apalagi mata yang mulai pedih, dan bau belerang yang mulai tercium, namun saya dan rombongan tetap berusaha menaklukan puncak Gunung Ijen dengan semangat juang hingga kami berhasil sampai puncak Ijen sekitar pukul 04.00 WIB.
Ketika sampai di puncak Gunung Ijen, rombongan kami bersama dengan rombongan lain menjalankan shalat Subuh berjama’ah dengan ditemani dinginnya pagi yang terasa luar biasa dengan syukur dan nikmat ketika melihat Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul di bawah kawah. Saya dan rombongan bersyukur dapat melihat sedikit fenomena blue fire, meskipun sedikit redup.
Selepas mencapai puncak Gunung Ijen, saya dan rombongan mulai menyebar untuk melakukan aktifitas yang mereka inginkan masing-masing. Seperti berfoto ria bersama turis asing, ber-selfie ria, sarapan pagi, beristirahat,dll. Bahkan ada yang berjalan turun menuju kawah Ijen dengan semangat yang tak mau kalah dari bapak-bapak penambang yang bekerja turun-naik mengangkat hasil tambang (belerang) seberat 55-65Kg bahkan lebih yang hanya bernilai sedikit rupiah untuk menyambung hidup sehari-hari. Rasa syukur tergelak oleh kami ketika sadar betapa beruntungnya kami yang kehidupannya sedikit jauh lebih ringan dibandingkan mereka yang harus bersusah payah mendapat rupiah. Tak hanya kami yang tertarik dengan kerja keras mereka, wisatawan asingpun ikut menyorot kerja keras mereka guna menyambung hidup dengan mengabadikan setiap peluh yang para penambang tersebut keluarkan lewat kamera canggih mereka. Yang paling nikmat di perjalanan kami menuju kawah Gunung  Ijen adalah ketika kami harus ‘mengalah’, memberi jalan untuk para penambang  yang sedang bekerja. Saat itulah kami harus mencari celah agar tidak mengganggu, apalagi wisatawan asing yang tak kalah ‘asyik’ mencari celah dibarengi guide mereka.
Saat sampai kawah Gunung Ijen, saya dan rombongan langsung menghambur untuk berfoto ria, mencoba sensasi menambang, membuat sedikit prakarya, dan mengisi botol dengan air belerang. Tak lama, kami dan rombongan naik kembali  dengan susah payah menuju puncak dan kemudian pulang untuk turun menuju tempat peristirahatan kami. Ternyata untuk turun gunungpun tidak mudah, berkali-kali hampir terpeleset dan jatuh , untung saja tak sampai terluka. Pada pukul 10.00 WIB, akhirnya saya sampai di tempat peristirahatan dengan lega dan syukur. Setelah itu bersama yang lain, saya menikmati sarapan dengan sebungkus mie nikmat yang terasa luar biasa setelah menikmati pengalaman yang menyenangkan.
Hampir pukul 11.00 WIB, kami melaksanakan pelantikan dengan rasa lega dan syukur lalu kami bersiap untuk pulang. Tak terkira rasanya sama saja seperti keberangkatan awal yang penuh sensasi namun jadi daya tarik kenangan yang tak terlupakan hingga kami tiba di Ambulu sekitar pukul 14.55 WIB.



“PENGALAMAN, dan TERIMA KASIH HW KWARCAB WATUKEBO”
Oleh : Puji Utami

Pengalaman adalah guru terbaik,terima kasih untuk HW KwarCab Watukebo telah menciptakan pengalaman ini semoga pengalaman ini bisa menjadi guru yang terbaik bagi kami,pendakian ke kawah ijen kemarin(24-25 desember 2014) memang merupakan pengalaman yang tak kan pernah terlupakan,berangkat dari watukebo menaiki truk dengan keadaan yang panas dan pengap serta kondisi yang berdesak2 sekitar 4-5 jam perjalanan yang penuh perjuangan terbanting ke kanan kiri terkena air hujan telah mewarnai perjalanan ini,sampai di ijen langsung disambut dengan suhu yang sangat dingin yang membuat kita harus segera beradaptasi dgn lingkungan yg sangat berbeda dg yg ada di truk tadi,kita sampai dan istirahat sebentar untuk sholat,makan,dsb,yang selanjutnya diselingi dgn materi-materi tentang pengenalan tanda-tanda alam yang akan sangat berguna untuk masa depan,pendakian dimulai sktr jm 1 smpai setengah 2 dini hari,dengan suhu yang sangat dingin menyelimuti tubuh ini,bahkan ada diantara kita yang berhenti dan muntah-muntah dalam perjalanan,tapi syukur alhmdulillah kita semua bisa sampai puncak tepat sekitar shubuh datang menjelang,inilah pengalaman yang paling mengharukan menurutku,kita sampai puncak dan kita melaksanakan shalat shubuh berjama'ah depan kita telah terbentang luas kawah dan belakang kita ada jurang yang sangat dalam,membuatku begitu merinding,ditemani angin dingin yang menerjang kita bersujud,bersimpuh kepada yang kuasa,terima kasih sekali lagi kepada hw kwarcab watukebo telah memperlihatkan kepada kami tentang alam dan keindahannya dan tak lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.



“PENDAKIAN DI GUNUNG KAWAH IJEN”
Hasil Laporan Perjalanan: Evi Junita

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus pada tahun (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Bondowoso ataupun dari Banyuwangi.
Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Pada hari rabo tanggal 24 Desember 2014 kami rombongan Hizbul Wathan Kwarcab Watukebo Jember mengadakan pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela yang bertempat di Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang terletak di perbataan Bondowoso-Banyuwangi. Rombongan kami berjumlah kurang lebih 30 orang.
Tepat pukul 10.00 WIB pagi kami berangkat dari Kota Jember. Rombongan kami berangkat dengan mengendarai sebuah truk. Sesaat di Kota Bondowoso, kami berhenti sejenak di sebuah mini market untuk istirahat dan membeli bekal. Di tengah perjalanan ada beberapa teman kami yang mengalami pusing-pusing, mual, dan sebagainya karena sempitnya tempat di dalam truk sehingga mengakibatkan sempitnya kami untuk duduk. Tanpa terasa kami sudah memasuki kawasan Gunung Ijen. Dingin, hujan, nuansa jalan yang sepi ikut menemani petualangan kami, jalanan yang beraspal. Tidak lama kemudian rombongan kami berhenti di sebuah aliran sungai yang mirip air terjun (sekitar 15 menit sebelum Kawah Ijen). Kami pun berfoto-foto di sana. Airnya cukup jernih tapi mengandung belerang.
Akhirnya setelah hampir 5 jam di jalan kami pun sampai juga di tempat tujuan kami yaitu Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami tiba pukul 16.00 WIB. Ternyata disana sudah ramai pengunjung yang mayoritas kendaraan roda 4. Setelah memarkir truk, dengan suhu yang cukup dingin kami pun turun dengan bingungnya kami untuk mencari sebuah toilet, akhirnya kami pun menemukan sebuah toilet untuk buang air kecil dan sekalian mengambil air wudhu untuk persiapan sholat maghrib. Setelah semua selesai jalan-jalan, melihat-lihat pemandangan yang cukup indah di kawasan Gunung Ijen ini teman-teman menuju di sebuah pos yang tidak jauh dari tempat parkir.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB kami semua berkumpul untuk membicarakan tentang teknis mendaki gunung dan larangan-larangan yang harus kami patuhi di sekitar kawasan gunung kawah ijen. Banyak teman-teman kami yang merasa kedinginan karena suhu yang kami rasakan saat ini cukup membuat bulu kulit kami berdiri. Pukul 21.00 WIB kami semua pun akhirnya tidur pulas karena untuk mempersiapkan energi serta fisik kami untuk mendaki Gunung Kawah Ijen pada nanti malam pukul 02.00 WIB.
Tepat pukul 01.30 WIB kami bersiap-siap memakai masker, jaket tebal, sarung tangan, sal dan lain-lain telah usia, saatnya kami go menuju Kawah Ijen. Pendakian pun berlanjut. Rasa ngantuk dan dinginnya angin malam harus kami lawan sepanjang perjalanan selama mendaki Gunung Kawah Ijen. Pendakian yang lumayan tinggi menguras stamina dan membuat otot kaki terasa pegal. Kami berhenti sejenak karena ada anggota kami yang sedang kecapekan. Para penambang belerang sudah bersemangat sambil membawa alat penerang dan keranjang pikul.
Di tengah jalur pendakian ini terdapat sebuah pondokan yang merupakan tempat penimbangan belerang yang diambil oleh para penambang dari Kawah Ijen. Disini juga terdapat penjual belerang beraneka bentuk seperti binatang, bunga dan hiasan lainnya, dan harganya cukup murah yaitu Rp 5 ribu. Dari pondokan ini, kami harus berjalan lagi selama 45 menit untuk menuju Kawah, itu informasi yang kami dapat dari seorang penjaga pondokan tersebut.
Akhirnya setelah 2 jam berjalan kaki dari pos Paltuding, kami sampai juga di puncak Gunung Ijen. Kawah Ijen ini selalu mengeluarkan asap belerang yang cukup menyengat. Untuk mengurangi bau belerang, gunakan masker yang dibasahi dengan air agar racunnya bisa tersaring sebagian.
Pemandangan Kawah Ijen cukup indah. Kawah berwarna hijau dengan bukit-bukit yang mengelilinginya menjadikan Kawah ini sebagai objek foto yang menarik. Kawah Ijen juga terkenal dengan fenomena Api Birunya yang biasa disebut Blue Fire. Fenomena tersebut hanya bisa dilihat bila kita datang pada waktu dini hari sebelum matahari terbit. Mengambil gambarnya pun cukup sulit. Pengunjung harus mendekati Kawah menuju lokasi penambang belerang. Dan kamera yang digunakan pun bukan kamera saku biasanya, tetapi harus kamera DSLR. Tapi sayang aku tidak bisa melihat Api Biru atau Blue Fire-nya dari puncak gunung, karena aku terlalu pagi sampai di Puncak Gunung Ijennya. Api biru tersebut berasal dari tempat penambangan belerang.
Setelah itu rombongan kami melanjutkan perjalanan ke dekat Kawah dan dekat dengan penambangan belerang, Perjalanan dari puncak menuju dasar kawah sangatlah sulit. Jalanannya berbatu dan licin. Mesti sangat berhati-hati jika tak ingin tergelincir. Belum lagi bau belerang pekat yang membuat dada sesak. Bagi orang yang tak biasa, udara bercampur belerang sangat menyakitkan mata. Apalagi penambang mesti membawa puluhan kilo batu belerang kembali ke puncak, tentu tak terbayang bagaimana sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.
Makin dekat ke kawah, semakin saya bisa melihat apa-apa dengan jelas. Tetapi begitu capeknya saya ingin kembali ke puncak Gunung Ijen. Tapi keyakinan makin luntur seiring semakin dalam daerah kawah yang saya tapaki. Saya merasa harus mampu menyelesaikan perjalanan ini sebisa mungkin. Danau air tawar sudah terlihat. Dekat danau, ada mata air panas yang mengalirkan air langsung ke danau. Airnya beruap dan tak berhenti mengucur dari sumbernya. Saya cukup takjub melihat apa yang ada di hadapan. Ada enam tong besar dari seng yang tak berhenti mengeluarkan uap panas. Di bawah tong-tong besar itulah sumber belerang yang ada di kawah ini.
Ada tiga penambang yang sedang menghancurkan batu-batu belerang di sekitar lokasi. Mereka tak memakai masker. Satu di antaranya hanya menggunakan sendal jepit. Mereka tersenyum melihat kedatangan rombongan kami. Disana kami berfoto-foto untuk menjadikan foto tersebut pengalaman dan juga kenangan indah kami selama berjalan selama 2 jam sangat mengasyikkan dengan keadaan yang cukup dingin, ngantuk dan capek.
Disana kami sempat bertanya kepada salah seorang penambang yang kami temui tentang upah mereka. Ternyata mereka hanya dibayar Rp 780 setiap 1 kilo belerang yang mereka angkut dari lokasi tambang ke pos penimbangan. Harga yang sangat tidak sesuai dengan risiko dan tenaga yang mereka keluarkan.
Akhirnya rombongan kami memutuskan untuk kembali ke pos paltuding, setelah kami sampai di pos paltuding teman-teman pada istirahat karena kecapekan dan saya juga merasakan capek yang begitu luar biasa sampai-sampai kaki saya keram susah banget buat jalan. Aku berpikiran untuk meminta tolong kepada teman saya untuk memijat kaki saya yang sedang keram. Kami juga sambil sarapan dengan menu yang sedikit sederhana yaitu mie sedap goreng untuk mengganjal perut yang kosong. Setelah beristirahat dan sambil mengganjal perut rombongan kami melanjutkan sedikit permainan supaya tenaga kami sehat bugar kembali dan tidak loyo lagi. Kemudian dilanjutkan acara pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela Hizbul Wathan Kwarcab Watukebo Jember.
Acara selesai, waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB kami pun bersiap-siap menuju ke truk dan melanjutkan kembali perjalanan pulang ke Jember. Di tengah perjalanan kami semua tidur pulas dan tak terasa kami sudah sampai di Jember karena kami semua merasa kelelahan dengan acara pendakian di Gunung Kawah Ijen. Tetapi pendakian ke Gunung Kawah Ijen yang kedua kalinya ini untuk saya, saya merasa bersyukur sekali karena pendakian tahun lalu tidak bisa menakklukkan ke dasar Kawah Ijen, untuk pendakian kali ini saya merasa puas dan sangat bersyukur sekali atas karunia Allah SWT sungguh perjalanan yang seru dan menguras tenaga. Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan menikmati keindahan karya alam yang diciptakan-Nya.
Itulah cerita pengalaman saya teman-teman aku tunggu cerita pengalamanmu ya... hehehe...
Sekian dan terima kasih...
Wassalamu’alaikum Wr. Wb





“SALAH SATU PENGALAMAN PALING MENGESANKAN”
Laporan : Rendra Setia Pramana

Assalamualaikun wr wb
Ini adalah salah satu pengalaman yang paling mengesankan di dalam hidup saya, ketika mendaki gunung ijen. Sekilas tentang gunung ijen, gunung ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah kab banyuwangi, jawa timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan pernah emapat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936). Kembali ke jalannya cerita... Waktu itu pada tanggal 24 Desember 2014 kami penghela kwarcab watukebo yang berjumlah sekitar 40 orang berangkat ke kawah ijen untuk melaksanakan kegiatan pendakian dan pelantikan penghela taruna melati 1 dan 2, kami berangkat menggunakan sebuah truk yang ditutup terpal di atasnya. Bayangan perjalan yang sangat menyenangkan hilang seketika ketika aku berhempit-hempitan dengan 40 orang lainya di dalam sebuah truk yang tidak terlalu besar. Sesak, sempit, gerah semua campur jadi satu dan yang paling menyebalkan adalah bahu solar yang menyengat. Tapi semua memaklumi itu karena hanya dengan membayar uang yabg tidak perlu disebutkan jumlahnya dan jelas sangat murah, kami bisa pergi ke kawah ijen.
Setelah 3 jam perjalanan kami akhirnya tiba di tenpat tujuan dengan selamat, gerimis mulai turun dan kabutpun mulai muncul, kami menginab terlebih dahalu lalu pada pukul 01.30 wib dini hari pada tanggal 25 desember kami memulai pendakian. Perjalan yang kami lalui tidak begitu mudah, dengan cuaca yang dingin dan jarak pandang yang terbatas kami lalui dengan penuh semangat, tetapi dengan semangat saja itu semua tidak cukup karena ada teman kami yang berhenti lama ditengah jalan karena fisik mereka kelelahan. Mendaki mendaki dan mendaki.. akhirnya kami tiba dipuncak ijen dan disusul teman teman yang tertinggal di belakang. Diatas puncak ijen yang dingin lalu kami melakukan shalat subuh berjamaah setelah shalat sebagian ada yang turun ke kawah dan ada yang berlindung di antara batu-batu agar tidak kedinginan. Mataharipun mulai muncul dan kamipun turun dari puncak. Setelah semua turun kami melakukan kegiatan pelantikan, akhirnya semua kegiatan selesai dan kami segera menuju truk yang sempit dan sesak itu dan melanjutakan perjalan kembali kerumah. Pengalaman yang sangat mengesakan dan pasti saya akan kembali lagi entah itu kapan.
Wassalamualaikum wr wb


Nah masih banyak lagi pengalaman kami yang mungkin belum sempat kami share ke kalian! Seru bukan???? Kunjungi deh si Ijen! Hahaaa... ! selanjutnya pasti masih banyak kok pengalaman kami! Stay bareng KOMUNITAS KOMUNIKASI HW WATUKEBO ya!!! 

Sabtu, 24 Januari 2015

Kenangan dari Kawan Sejawat Tentang Drum Band HW Jember di Jakarta

Jakarta ! I am coming

Jakarta Merupakan Sebuah Kota besar yg ada di Indonesia. Jakarta adalah Ibukota Negara Indonesia, Banyak orang yg bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki ditanah betawi ini. Tak halnya saya, saya juga pernah bermimpi untuk bisa datang ke Jakarta. Akhirnya impian saya ini dapat terwujudkan setelah saya mengikuti Kegiatan Drum Band Hizbul Wathan yg diundang untuk meramaikan Pawai ta’aruf 1000 personil Drum Band Dalam Rangka Muktamar Hizbul wathan yg ke 2 di Jakarta.

Jum’at 14 Januari 2011 Impian ini saya mulai ketika saya bersama Rombongan DBHW berangkat dari Dusun tercinta ini pada pukul 03.00 WIB menggunakan sebuah Truk. Diperjalan menuju stasiun Jember saya merasa kedinginan karena saya lupa mengenakan Jaket. Akhirnya rombongan Tiba di Stasiun Jember, dilanjutkan menurunkan alat Drum band dan melakukan sholat subuh. Setelah semua selesai sholat subuh, semua langsung berbondong-bondong memasuki stasiun Jember. Kami semua langsung menaiki KA Logawa 168-170 Jurusan Jember – Purwokerto. Sambil menunggu kereta diberangkatkan, saya bermain didepan gerbong terlebih dahulu. Tepat pukul 05.00 WIB kereta diberangkatkan, suara peluit pun dibunyikan serta suara klakson kereta. Selama perjalanan kami diiringi nyanyian roda-roda kereta yg bergesekan dengan rel serta siulan klakson kereta. Setelah 5 menit, saya berjalan kedepan untuk menghampiri fauzi yg sedang duduk dipintu samping kereta. Pemandangannya sangat menakjubkan yg tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Pemandangan Persawahan dan Pekarangan menemani perjalanan ini. Sampai di Stasiun Probolinggo, kereta berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang lain. Kereta kembali menggerakan Roda-roda besinya untuk mengantarkan kami. Masuk daerah Pasuruan, Mata saya ditakjubkan oleh pemandangan gedung-gedung bertingkat. Pada saat melewati daerah terdampak Lumpur lapindo, kereta mengurangi kecepatan dan berjalan sangat pelan.

Tepat Pukul 09.40 WIB kami sampai distasiun Gubeng Surabaya, semua rombongan langsung menurunkan barang-barang . setelah saya selesai menurunkan barang saya, saya mengajak fauzi untuk berkeliling melihat kokohnya bangunan stasiun gubeng. Pada Pukul 11.30 WIB kami para lelaki melakukan Sholat Jum’at berjamaah di musholla Stasiun, sedangkan para perempuan melakukan sholat dhuhur setelah kami. Setelah menunggu hampir 2 jam, akhirnya KA GBMS (gaya baru malam selatan) jurusan Jakarta Kota-Surabaya Gubeng datang. Semua anggota rombongan berkemas dan segera menaiki Kereta, kami mendapat gerbong paling depan, tepat dibelakang Lokomotif. Ternyata, Lokomotif harus berputar dahulu untuk bisa menarik gerbong menuju Jakarta. Pukul 13.10 kereta Diberangkatkan Menuju Jakarta. Disepanjang Perjalanan kami kembali diiringi nyanyian roda-roda besi kereta dan siulan klakson kereta. Saya dan fauzi kemudian kembali kepintu samping kereta untuk melihat keindahan alam ini. Malam Pun tiba, saya kembali ketempat duduk saya. Terdengar Suara P.arsad sedang menginfokan bahwa akan dilaksanakan sholat magrib berjamaah, semua rombongan langsung mengambil tayamum dan bersiap sholat. Suara Azan dikumandangkan , sholat kali ini diimami oleh mbah syafi’i.  Pada pukul 18.05 WIB, kereta berhenti Di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Selesai itu, kereta kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangan gemerlap lampu-lampu kota jogja menjadi penghibur perjalanan ini.Tiba dipersimpangan Stasiun ciledug, kereta berhenti untuk bergantian jalur dengan Kereta Kelas Bisnis, kebetulan ada pedagang asongan yg menjual wedang kopi. Saya pun pesan 1 gelas. Setelah 16 jam perjalanan, pukul 05.10 kereta sampai di Stasiun Pasar Senen. Kami semua langsung menurunkan barang-barang. Semua Rombongan Langsung keluar dari stasiun. Saya merasa senang sekali bisa menginjakkan kaki saya ditanah betawi. Kami semua menunggu Jemputan Bus selama 1 jam. Untungnya ada acara Inbox yg bsa menghibur kami. Tiba-tiba hujan, kami semua langsung berteduh di kantor Kec. Senen. Akhirnya bus jemputan datang.

Kami langsung dibawa ke TMII (Taman mini indonesia indah). Sesampai di TMII tepatnya dipadepokan Pencak Silat , saya dan andik mencari toilet untuk mandi. Di TMII kami berlatih drum band lagi sebelum Hari H. Ada juga Rombongan DB dari Pati Jateng. Setelah puas di TMII, kami rombongan dari jember langsung menuju SD Muhammadiyah Matraman JakTim untuk Rehat.malamnya kami bermain sepakbola bersama untuk menghibur diri. Ahad 16 Januari 2011 Kami berangkat Menuju Monas Untuk mengikuti Pawai ta’aruf. Saya melihat banyak sekali peserta, dan ada juga 2 bus yg baru datang dari denpasar. Tepat Pukul 08.30 WIB, seluruh peserta Pawai Diberangkatkan oleh bpk din syamsudin. Rute yg kami tempuh Mulai dari Monas Menuju Gelora Bung Karno, Senayan melalui JL. Medan Merdeka, JL. MH Tamrin Dan JL. Jenderal sudirman. Sewaktu Di Bundaran HI, saya sangat takjub. Kami semua kehujanan, namun hujan ini tak bisa memadamkan api semangat kami untuk terus melangkah.

Akhirnya Kami DBHW dari Jember sampai Di Parkir Timur Senayan, kami melakukan sebuah atraksi, dan akhirnya kami mendapat hadiah tepuk tangan dari penonton. Kami sangat senang. Setelah semua selesai, saya menyempatkan melihat Stadion GBK, disana saya berfoto-foto dan melihat-lihat lingkungan sekitar stadion. Jemputan Metro mini datang dan kami langsung Menuju Masjid Istiqlal Dan Monas .Di Monas, saya berkeliling dan membeli oleh-oleh dari Jakarta. Setelah Puas Mengunjungi masjid Istiqlal & Monas, kami kembali ke penginapan. Malamnya saya tidur sangat nyenyak. Pukul 05.00 WIB kami harus segera membereskan barang-barang kami, karena SD tempat kami menginap akan digunakan siswa-siswi belajar. Kami pindah ke masjid samping SD.

Pukul 08.00 WIB kami menuju Stasiun Pasar Senen untuk kembali Pulang Ke Jember. Pukul 05.55 kami sampai di Surabaya. Karena Tidak ada Kereta yg Ke Jember Pukul 05-08 kami terpaksa menyewa 2 buah bus Pariwisata. Saya naik Bus 2 yg mengangkut alat DB. Didalam bus anak-anak ramai sekali, seakan tidak menghiraukan capeknya dari Jakarta. Tiba-tiba saya merasa mual, saya langsung tidur. Pukul 11.35 WIB Rombongan Tiba Di Watukebo dengan Selamat


Muhammad Hisyam P
02 Juni 2014

Nah! Bagaimana dengan cerita teman-teman? Tentunya kita punya cerita masing-masing tentang DBHW JEMBER di Jakarta saat itu.


Jumat, 23 Januari 2015

Pandu Hizbul Wathan Watukebo & Drum Band Hizbul Wathan dari Jember

Pandu Hizbul Wathan Watukebo & Drum Band Hizbul Wathan dari Jember

Drum band Hizbul Wathan dari Jember merupakan sebutan yang mulai tak asing bagi masyarakat Ambulu dan sekitarnya. Bahkan tak asing bagi Hizbul Wathan, baik di tingkat lokal maupun nasional (dalam event Muhammadiyah, dll). Drum Band HW dari Jember yang nyentrik dengan pakaian HW dan begitu gagah dengan derap langkah serta tegas ketukannya telah memiliki pengalaman dalam berpartisipasi  di acara Muhammadiyah (menyemarakkan 1 Abad Muhammadiyah di DIY tahun 2011), maupun di acara Hizbul Wathan (Kegiatan Drum Band Hizbul Wathan yg diundang untuk meramaikan Pawai ta’aruf 1000 personil Drum Band Dalam Rangka Muktamar Hizbul Wathan yg ke 2 di Jakarta (2011),   Tanwir HW ke 1 di DIY (2012)), dll.

Lalu bagaimana dengan pandu Hizbul Wathan Watukebo? Para pandu HW Watukebo adalah personil-personil Drum Band Hizbul Wathan Jember! Ada keunikan tersendiri dari Drum Band HW Jember. Yakni dengan seluruh personilnya yang tak terbatas usia untuk berpartisipasi. Dalam sebuah acarapun, baik besar maupun kecil, tersaji wajah-wajah muda maupun tua. Bagaimana bisa? Tentunya karena Watukebo memiliki kader-kader dari sekolah-sekolah yang berlingkup Muhammadiyah, serta memiliki masyarakat-masyarakat yang begitu bersemangat untuk menghidup-hidupi Muhammadiyah. Apalagi HW KwarCab Watukebo alhamdulillah masih memiliki generasi-generasi tua yang bisa menularkan pengalamannya kepada generasi muda.

Kamis, 22 Januari 2015

Liburan Bareng Penghela Hizbul Wathan Watukebo, pasti seru!


Liburan Bareng Penghela Hizbul Wathan Watukebo, pasti seru!
Liburan menjadi salah satu pengalaman yang pasti terjadi pada diri seseorang ya! Nggak tua, nggak muda pasti punya cerita tentang pengalaman-pengalaman mereka saat liburan. Nah, pertanyaannya sekarang ya! Bagaimana dengan liburan pandu penghela Hizbul Wathan? Tentu banyak yang setuju, kalau liburannya para pandu adalah menjelajah, berkemah, mendaki, dll. Setuju!
Pandu penghela Hizbul Wathan Watukebo selalu merencakan agenda bertemu/saling kumpul untuk mengeratkan tali silaturahmi agar terus kompak. Rencana-rencana liburan pandu hizbul wathan Watukebo pastinya dinikmati oleh para pandunya ketika hari libur-libur besar, seperti ; hari raya idul fitri, hari raya idul adha, liburan sekolah (Tahun baru, semester,dll), dll. Tujuannyapun tak hanya dimaksudkan untuk mengisi hari libur saja, tapi juga karna ingin berpartisipasi mengadakan acara yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang karena liburan tersebut bukan hanya sekedar bermain bersama, cengenges-cengingisan nggak penting juga, tapi ada banyak materi baru yang diadakan sebagai bentuk pelatihan bersama seluruh pandu penghela di Watukebo.
Pertemuan rutin-pun sering menjadi wadah diskusi untuk mencari tempat-tempat yang menarik dan nyaman untuk liburan bersama. Pertemuan rutin tersebut selalu diadakan pada minggu ke dua setiap bulannya. Seluruh agenda perkemahan, maupun liburan, ataupun pelatihan juga alhamdulillah terjadwal apik dan terlaksanakan dengan baik serta khidmat. Agenda saat di tempat liburanpun tersusun rapi lho! Dari pembukaan, acara inti (pembekalan materi baru, membicarakan hal-hal tentang kepanduan di Watukebo (permasalahan, maupun solusi,dll)), ada beberapa permainan juga sebagai refreshing, serta tentunya ada penutupan.
Ada pertanyaan lagi nih! Dimana saja tempat-tempat yang sering disinggahi oleh pandu penghela Hizbul Wathan di Watukebo? Banyak. Tapi, yang pasti nggak jauh-jauh dari alam. Seperti mendaki gunung, berkemah di pantai, dll. Yang pasti bukan ke mall begitu ya!
Lalu apakah hanya pandu hizbul wathan Watukebo saja yang mengikuti agenda kami? Tentu tidak. Mengapa? Karena pandu Hizbul Wathan Watukebo sangat welcome dengan kedatangan pandu-pandu Hizbul Wathan dari daerah lain. Misalnya, Pandu Hizbul Wathan dari Banyuwangi. Beberapa diantara mereka selalu memiliki pengalaman liburan dengan kami. Kenapa? Ada alasan teknis juga mereka (pandu Hizbul Wathan dari Banyuwangi)  bisa akrab dengan kami. Karena, beberapa pandu Hizbul Wathan dari Watukebo bersekolah di Banyuwangi pada saat itu, dan mulai transfering ilmu kepanduan dari Hizbul Wathan Watukebo ke Hizbul Wathan Banyuwangi. Kalaupun ditanya apa penyebabnya kenikmatan liburan bersama pandu penghela Hizbul Wathan Watukebo, maka jawabannya adalah karena selalu ada keakraban antara pandu yang baru dengan pandu yang lama. Tak ada senioritas. Selalu ada keakraban yang santun tanpa formalitas yang kaku. Akrab seperti saudara, bukan antara senior dan junior.
Semoga kalian, para pembaca yang cerdas dapat selalu mengambil manfaat dari tulisan sederhana ini yang tentunya masih perlu perbaikan-perbaikan karena penulis masih perlu banyak belajar untuk menulis tentang Hizbul Wathan di Watukebo ini. dan selanjutnya, JANGAN PERNAH SUNGKAN UNTUK MENGUNJUNGI KAMI DI WATUKEBO YA!

Rabu, 21 Januari 2015

Watukebo, Para Pandu Hizbul Wathan yang Tak Kenal Usia


Watukebo, Para Pandu Hizbul Wathan yang Tak Kenal Usia

Watukebo. Lagi-lagi. Hizbul Wathan di Watukebo  cukup ramai sejak dulu dengan para kadernya yang begitu kental dengan lingkungan Muhammadiyah. Tak hanya Hizbul Wathan saja yang begitu banyak para kadernya tersedia di kompleks pendidikan Muhammadiyah di Watukebo ini. Ada Tapak Suci, IPM, dll. Namun, fokus kita tercurah pada Hizbul Wathan kali ini.
Jika ditanya bagaimana bisa masih ada banyak kader yang terus ada? Jika ditanya begitu, maka jawabannya simple. Sederhana. Karna Watukebo memiliki sumbangsih kader dari lembaga pendidikan dan kultur masyarakat yang luar biasa ‘keukeuh’ dengan kegiatan dalam menghidup-hidupi Muhammadiyah di Watukebo. Tidak hanya Watukebo yang memberi sumbangsih kader. Dari luar Watukebo-pun cukup banyak. Dengan adanya kader untuk Muhammadiyah yang terus menerus berlomba dengan waktu, maka tak terhitung juga banyaknya kader-kader yang tercipta untuk Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan yang menjadi salah satu ekstrakulikuler yang menarik bagi peserta didik maupun yang telah memiliki usia cukup dewasa dan ‘berumur’ untuk menjadi seorang siswa.
Mengingat judul yang kita bahas adalah “Para Pandu Hizbul Wathan yang Tak kenal Usia” maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada batasan usia untuk menjadi seorang pandu. Pada Hizbul Wathan yang ada di Watukebo misalnya, masih ada banyak generasi tua yang siap menuntun para generasi muda yang terus bermunculan untuk benar-benar siap menjadi pemuda-pemudi Indonesia yang tangguh dan cakap sekeras apapun latihan dan tempaan yang menghadang karena memang tak sebanding dengan pengetahuan serta ‘kemanjaan pandu’ yang tak terlupakan ketika masih menjadi bocah dan serius “bermain-sambil-belajar” dengan senangnya ketika menjadi pandu athfal ataupun pengenal. Itupun jika ditanya bukti bagaimana pandu yang tak kenal usia, maka ada sebuah cerita tentang Drum Band Hizbul Wathan dari Jember yang merupakan langkah amar ma’ruf sebagai gebrakan dari Hizbul Wathan Watukebo dengan anggota Drum Band yang tak kenal usia (muda maupun tua, pandu usia athfal-penuntun) saling beradu nada, ketukan, bahkan langkah bersama untuk terlibat dalam acara Hizbul Wathan, maupun Muhammadiyah Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dll.
Semoga seluruh pandu Hizbul Wathan terus memiliki semangat juang untuk memberi manfaat pada diri sendiri, masyarakat/lingkungan, lembaga, agama, bahkan negara dan bangsa sekalipun. Amiin.