Siapa sih yang gak tau gunung
Ijen? Tempat wisata yang ada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa
Timur. Nah yang paling amazing menurut para wisatawan lokal maupun
internasional adalah fenomena pada kawah ijen. Yakni, dapat dijumpai fenomena
blue fire atau api biru, yang merupakan keunikan tempat ini setiap 02.00-04.00
WIB, karena pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu
Islandia dan Ijen. Luar biasa bukan? Amazing kan?
Pada bulan Desember 2014, Pandu penghela HW KwarCab Watukebo
berkesempatan mengunjungi kawasan Ijen hingga melakukan pendakian sampai ke
kawah dan menikmati liburan yang menyenangkan tersebut. Berikut merupakan
lapora perjalanan dari kami, :
“IJEN, PENDAKIAN PERTAMA KE TEMPAT JAUH”
Hasil Laporan Perjalanan : Fitriah Ika Sari
Pada hari Rabu,
24 Desember 2014 lalu saya memiliki pengalaman yang asyik dan menyenangkan
bersama rombongan HW Penghela KwarCab Watukebo dalam rangka Pelantikan Penghela
tingkat Taruna Melati 1 di area Gunung Ijen (2.443 m) yang adalah sebuah gunung berapi
aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.
Nah Rabu pagi itu, rombongan kami yang
kurang lebih berjumlah lebih dari 20-30 orang sudah mulai berkumpul (Rumah Pak
Arsyad,Watukebo) pukul 09.00 WIB dengan segala persiapan yang mantap. Namun keberangkatan
kami molor karena mengurus registrasi biaya hingga kami berangkat pukul 11.00
WIB menggunakan sebuah truk. Waktu yang kami tempuh menuju area Gunung Ijen
sekitar 5-6 jam itu membuat saya dan rombongan merasakan sensasi yang mantap yaitu
terbanting-banting (dari kiri ke kanan atau dari depan ke belakang , dan
sebaliknya),merasa kepayahan di area perut , duduk dan tidur dengan terjepit-jepit,
berdiri hingga kesemutan, bingung karna air hujan yang muncrat ke dalam truk,,
dll. Namun kami tetap merasakan semangat juang dan tak mau kalah dengan senior
kami yang masih bersemangat meskipun umurnya sudah sepuh.
Dengan segala perjuangan di dalam truk
yang penuh sensasi itu, akhirnya kami berhenti dan me-refresh perut dan badan kami
sejenak dengan mengunjungi sebuah air terjun, yaitu Air Terjun Kali
Pahit yang memiliki bentuk air terjun yang memanjang beraliran seperti sungai
tetapi mengalir dari atas memalui jalur yang terbentuk alami diantara bebatuan
pegunungan. Air disini memiliki warna kuning kehijauan mengandung belerang yang
sangat tinggi. Menurut informasi, air terjun ini merupakan rembesan dari Kawah
Ijen. Udara yang dingin langsung menyengat kulit kami yang sebelumnya merasakan
gerah tak berkesudahan di dalam truk. Setelah terasa cukup waktu santai yang
kami habiskan untuk sekedar duduk santai dan berfoto ria, kami segera
meneruskan perjalanan kami yang ‘katanya’
sedikit kebablas melewati objek yang kami tuju.
Tak lama,
sekitar pukul 17.00 WIB, saya dan rombongan sampai di tempat tujuan kami, dan
segera melarikan diri menuju kamar mandi umum terdekat untuk sekedar wudhu’
atau menyelesaikan kebutuhan pribadi. Secara pribadi, saya merasa ‘amazing’
saat pertama kali turun dari truk,
yaitu ketika uap tercipta setelah saya ataupun yang lainnya berbicara dan
dibarengi dengan suhu yang dingin juga bahkan air yang dingin ketika disentuh.
Semuanya terasa dingin! Dan kami berusaha beradaptasi.
Banyak hal yang terasa menyenangkan
ketika sampai di area Gunung Ijen pertama kali. Seperti makan bersama-sama
seusai melaksanakan shalat jama’ah, mendapat sedikit ilmu tentang ‘kabut’ dari
pak Agus, dll. Bahkan dinginnya kawasan Gunung Ijen-pun terasa menyenangkan
ditambah lagi dengan pengalaman konyol yang saya rasakan bersama kawan saya
yaitu Novita Sepdiana Putri dan ditemani oleh Mbak Nadya ketika membeli Pete
atas suruhan dari pak Heri, pak Hendro, Mas Catur, dll. Dengan PD-nya kami
berjalan sambil membawa uang yang hanya sebesar Rp 2000,00 menuju toko yang
menawarkan beberapa ikat pete yang kelihatan bagus dan lezat bagi penikmatnya,
juga terlihat gagah dan mahal. Teganya, pete yang terlihat gagah dan mahal itu
benar-benar mahal dan hanya senilai 1 utas pete saja. Kami yang sudah merasa
malu dan hanya bisa tertawa, hanya mampu berucap sebal kepada pak Hendro dkk.
Setelah insiden sore itu, saya dan
rombongan melaksanakan shalat berjama’ah dan kegiatan santai lainnya untuk
menyiapkan diri agar keadaan tetap fit untuk pendakian ke Gunung Ijen. Banyak
kegiatan santai yang bisa kami habiskan di tempat istirahat kami yang seperti
balai pertemuan di dalam area lapangan kawasan; seperti perencanaan pendakian, memahami
ilmu perbintangan dan tanda alam yang disampaikan Pak Arsyad, minum kopi, mendengar
musik, masak mie instan,membuat api unggun,
makan jagung bakar, bahkan berfoto-foto ria hingga kami beristirahat
sekitar pukul 22.00 WIB.
Keesokannya , sesuai kesepakatan
bersama, pendakian dipersiapkan sekitar pukul 01.00 WIB. Kemudian kami mulai
memasuki area pendakian sekitar pukul 01.45 WIB setelah mengurus tiket masuk.
Udara mulai terasa dingin dan perjalanan mulai terasa berat apalagi sambil
membawa tas punggung yang membebani dan geregetan untuk membuang tas punggung
tersebut, ketika merasa lelah dan merasa tidak kuat mendaki jalan yang mulai
menanjak. Banyak kawan-kawan lainnya yang merasakan kram dan tidak kuat mendaki
sampai ke puncak Ijen, apalagi mata yang mulai pedih, dan bau belerang yang
mulai tercium, namun saya dan rombongan tetap berusaha menaklukan puncak Gunung
Ijen dengan semangat juang hingga kami berhasil sampai puncak Ijen sekitar
pukul 04.00 WIB.
Ketika sampai di puncak Gunung Ijen,
rombongan kami bersama dengan rombongan lain menjalankan shalat Subuh
berjama’ah dengan ditemani dinginnya pagi yang terasa luar biasa dengan syukur
dan nikmat ketika melihat Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan
berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul di bawah kawah.
Saya dan rombongan bersyukur dapat melihat sedikit fenomena blue fire, meskipun
sedikit redup.
Selepas
mencapai puncak Gunung Ijen, saya dan rombongan mulai menyebar untuk melakukan
aktifitas yang mereka inginkan masing-masing. Seperti berfoto ria bersama turis
asing, ber-selfie ria, sarapan pagi, beristirahat,dll. Bahkan ada yang berjalan
turun menuju kawah Ijen dengan semangat yang tak mau kalah dari bapak-bapak
penambang yang bekerja turun-naik mengangkat hasil tambang (belerang) seberat
55-65Kg bahkan lebih yang hanya bernilai sedikit rupiah untuk menyambung hidup
sehari-hari. Rasa syukur tergelak oleh kami ketika sadar betapa beruntungnya
kami yang kehidupannya sedikit jauh lebih ringan dibandingkan mereka yang harus
bersusah payah mendapat rupiah. Tak hanya kami yang tertarik dengan kerja keras
mereka, wisatawan asingpun ikut menyorot kerja keras mereka guna menyambung
hidup dengan mengabadikan setiap peluh yang para penambang tersebut keluarkan
lewat kamera canggih mereka. Yang paling nikmat di perjalanan kami menuju kawah
Gunung Ijen adalah ketika kami harus
‘mengalah’, memberi jalan untuk para penambang
yang sedang bekerja. Saat itulah kami harus mencari celah agar tidak
mengganggu, apalagi wisatawan asing yang tak kalah ‘asyik’ mencari celah
dibarengi guide mereka.
Saat sampai
kawah Gunung Ijen, saya dan rombongan langsung menghambur untuk berfoto ria,
mencoba sensasi menambang, membuat sedikit prakarya, dan mengisi botol dengan
air belerang. Tak lama, kami dan rombongan naik kembali dengan susah payah menuju puncak dan kemudian
pulang untuk turun menuju tempat peristirahatan kami. Ternyata untuk turun
gunungpun tidak mudah, berkali-kali hampir terpeleset dan jatuh , untung saja
tak sampai terluka. Pada pukul 10.00 WIB, akhirnya saya sampai di tempat
peristirahatan dengan lega dan syukur. Setelah itu bersama yang lain, saya
menikmati sarapan dengan sebungkus mie nikmat yang terasa luar biasa setelah
menikmati pengalaman yang menyenangkan.
Hampir pukul
11.00 WIB, kami melaksanakan pelantikan dengan rasa lega dan syukur lalu kami
bersiap untuk pulang. Tak terkira rasanya sama saja seperti keberangkatan awal
yang penuh sensasi namun jadi daya tarik kenangan yang tak terlupakan hingga
kami tiba di Ambulu sekitar pukul 14.55 WIB.
“PENGALAMAN, dan TERIMA KASIH HW KWARCAB WATUKEBO”
Oleh
: Puji Utami
Pengalaman
adalah guru terbaik,terima kasih untuk HW KwarCab Watukebo telah menciptakan
pengalaman ini semoga pengalaman ini bisa menjadi guru yang terbaik bagi
kami,pendakian ke kawah ijen kemarin(24-25 desember 2014) memang merupakan
pengalaman yang tak kan pernah terlupakan,berangkat dari watukebo menaiki truk
dengan keadaan yang panas dan pengap serta kondisi yang berdesak2 sekitar 4-5
jam perjalanan yang penuh perjuangan terbanting ke kanan kiri terkena air hujan
telah mewarnai perjalanan ini,sampai di ijen langsung disambut dengan suhu yang
sangat dingin yang membuat kita harus segera beradaptasi dgn lingkungan yg
sangat berbeda dg yg ada di truk tadi,kita sampai dan istirahat sebentar untuk
sholat,makan,dsb,yang selanjutnya diselingi dgn materi-materi tentang pengenalan
tanda-tanda alam yang akan sangat berguna untuk masa depan,pendakian dimulai
sktr jm 1 smpai setengah 2 dini hari,dengan suhu yang sangat dingin menyelimuti
tubuh ini,bahkan ada diantara kita yang berhenti dan muntah-muntah dalam
perjalanan,tapi syukur alhmdulillah kita semua bisa sampai puncak tepat sekitar
shubuh datang menjelang,inilah pengalaman yang paling mengharukan
menurutku,kita sampai puncak dan kita melaksanakan shalat shubuh berjama'ah
depan kita telah terbentang luas kawah dan belakang kita ada jurang yang sangat
dalam,membuatku begitu merinding,ditemani angin dingin yang menerjang kita
bersujud,bersimpuh kepada yang kuasa,terima kasih sekali lagi kepada hw kwarcab
watukebo telah memperlihatkan kepada kami tentang alam dan keindahannya dan tak
lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.
“PENDAKIAN DI GUNUNG KAWAH IJEN”
Hasil Laporan Perjalanan: Evi Junita
Assalamu’alaikum
Wr. Wb
Gunung Ijen
adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi,
Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat
kali meletus pada tahun (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung
ini bisa berangkat dari Bondowoso ataupun dari Banyuwangi.
Kawah Ijen
adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen
dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200
meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah
Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Pada hari rabo
tanggal 24 Desember 2014 kami rombongan Hizbul Wathan Kwarcab Watukebo Jember
mengadakan pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela yang bertempat di Taman
Wisata Alam Kawah Ijen yang terletak di perbataan Bondowoso-Banyuwangi.
Rombongan kami berjumlah kurang lebih 30 orang.
Tepat pukul
10.00 WIB pagi kami berangkat dari Kota Jember. Rombongan kami berangkat dengan
mengendarai sebuah truk. Sesaat di Kota Bondowoso, kami berhenti sejenak di
sebuah mini market untuk istirahat dan membeli bekal. Di tengah perjalanan ada
beberapa teman kami yang mengalami pusing-pusing, mual, dan sebagainya karena
sempitnya tempat di dalam truk sehingga mengakibatkan sempitnya kami untuk
duduk. Tanpa terasa kami sudah memasuki kawasan Gunung Ijen. Dingin, hujan,
nuansa jalan yang sepi ikut menemani petualangan kami, jalanan yang beraspal.
Tidak lama kemudian rombongan kami berhenti di sebuah aliran sungai yang mirip air
terjun (sekitar 15 menit sebelum Kawah Ijen). Kami pun berfoto-foto di sana.
Airnya cukup jernih tapi mengandung belerang.
Akhirnya
setelah hampir 5 jam di jalan kami pun sampai juga di tempat tujuan kami yaitu
Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami tiba pukul 16.00 WIB. Ternyata disana sudah
ramai pengunjung yang mayoritas kendaraan roda 4. Setelah memarkir truk, dengan
suhu yang cukup dingin kami pun turun dengan bingungnya kami untuk mencari
sebuah toilet, akhirnya kami pun menemukan sebuah toilet untuk buang air kecil
dan sekalian mengambil air wudhu untuk persiapan sholat maghrib. Setelah semua
selesai jalan-jalan, melihat-lihat pemandangan yang cukup indah di kawasan
Gunung Ijen ini teman-teman menuju di sebuah pos yang tidak jauh dari tempat
parkir.
Waktu
menunjukkan pukul 20.00 WIB kami semua berkumpul untuk membicarakan tentang
teknis mendaki gunung dan larangan-larangan yang harus kami patuhi di sekitar
kawasan gunung kawah ijen. Banyak teman-teman kami yang merasa kedinginan
karena suhu yang kami rasakan saat ini cukup membuat bulu kulit kami berdiri.
Pukul 21.00 WIB kami semua pun akhirnya tidur pulas karena untuk mempersiapkan
energi serta fisik kami untuk mendaki Gunung Kawah Ijen pada nanti malam pukul
02.00 WIB.
Tepat pukul
01.30 WIB kami bersiap-siap memakai masker, jaket tebal, sarung tangan, sal dan
lain-lain telah usia, saatnya kami go menuju Kawah Ijen. Pendakian pun
berlanjut. Rasa ngantuk dan dinginnya angin malam harus kami lawan sepanjang
perjalanan selama mendaki Gunung Kawah Ijen. Pendakian yang lumayan tinggi
menguras stamina dan membuat otot kaki terasa pegal. Kami berhenti sejenak
karena ada anggota kami yang sedang kecapekan. Para penambang belerang sudah
bersemangat sambil membawa alat penerang dan keranjang pikul.
Di tengah jalur
pendakian ini terdapat sebuah pondokan yang merupakan tempat penimbangan
belerang yang diambil oleh para penambang dari Kawah Ijen. Disini juga terdapat
penjual belerang beraneka bentuk seperti binatang, bunga dan hiasan lainnya,
dan harganya cukup murah yaitu Rp 5 ribu. Dari pondokan ini, kami harus
berjalan lagi selama 45 menit untuk menuju Kawah, itu informasi yang kami dapat
dari seorang penjaga pondokan tersebut.
Akhirnya
setelah 2 jam berjalan kaki dari pos Paltuding, kami sampai juga di puncak
Gunung Ijen. Kawah Ijen ini selalu mengeluarkan asap belerang yang cukup
menyengat. Untuk mengurangi bau belerang, gunakan masker yang dibasahi dengan
air agar racunnya bisa tersaring sebagian.
Pemandangan
Kawah Ijen cukup indah. Kawah berwarna hijau dengan bukit-bukit yang
mengelilinginya menjadikan Kawah ini sebagai objek foto yang menarik. Kawah
Ijen juga terkenal dengan fenomena Api Birunya yang biasa disebut Blue Fire.
Fenomena tersebut hanya bisa dilihat bila kita datang pada waktu dini hari
sebelum matahari terbit. Mengambil gambarnya pun cukup sulit. Pengunjung harus
mendekati Kawah menuju lokasi penambang belerang. Dan kamera yang digunakan pun
bukan kamera saku biasanya, tetapi harus kamera DSLR. Tapi sayang aku tidak
bisa melihat Api Biru atau Blue Fire-nya dari puncak gunung, karena aku terlalu
pagi sampai di Puncak Gunung Ijennya. Api biru tersebut berasal dari tempat
penambangan belerang.
Setelah itu
rombongan kami melanjutkan perjalanan ke dekat Kawah dan dekat dengan
penambangan belerang, Perjalanan dari puncak menuju dasar kawah sangatlah
sulit. Jalanannya berbatu dan licin. Mesti sangat berhati-hati jika tak ingin
tergelincir. Belum lagi bau belerang pekat yang membuat dada sesak. Bagi orang
yang tak biasa, udara bercampur belerang sangat menyakitkan mata. Apalagi
penambang mesti membawa puluhan kilo batu belerang kembali ke puncak, tentu tak
terbayang bagaimana sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.
Makin dekat ke
kawah, semakin saya bisa melihat apa-apa dengan jelas. Tetapi begitu capeknya
saya ingin kembali ke puncak Gunung Ijen. Tapi keyakinan makin luntur seiring
semakin dalam daerah kawah yang saya tapaki. Saya merasa harus mampu
menyelesaikan perjalanan ini sebisa mungkin. Danau air tawar sudah terlihat.
Dekat danau, ada mata air panas yang mengalirkan air langsung ke danau. Airnya
beruap dan tak berhenti mengucur dari sumbernya. Saya cukup takjub melihat apa
yang ada di hadapan. Ada enam tong besar dari seng yang tak berhenti
mengeluarkan uap panas. Di bawah tong-tong besar itulah sumber belerang yang
ada di kawah ini.
Ada tiga
penambang yang sedang menghancurkan batu-batu belerang di sekitar lokasi.
Mereka tak memakai masker. Satu di antaranya hanya menggunakan sendal jepit.
Mereka tersenyum melihat kedatangan rombongan kami. Disana kami berfoto-foto
untuk menjadikan foto tersebut pengalaman dan juga kenangan indah kami selama
berjalan selama 2 jam sangat mengasyikkan dengan keadaan yang cukup dingin, ngantuk
dan capek.
Disana kami
sempat bertanya kepada salah seorang penambang yang kami temui tentang upah
mereka. Ternyata mereka hanya dibayar Rp 780 setiap 1 kilo belerang yang mereka
angkut dari lokasi tambang ke pos penimbangan. Harga yang sangat tidak sesuai
dengan risiko dan tenaga yang mereka keluarkan.
Akhirnya
rombongan kami memutuskan untuk kembali ke pos paltuding, setelah kami sampai
di pos paltuding teman-teman pada istirahat karena kecapekan dan saya juga
merasakan capek yang begitu luar biasa sampai-sampai kaki saya keram susah
banget buat jalan. Aku berpikiran untuk meminta tolong kepada teman saya untuk
memijat kaki saya yang sedang keram. Kami juga sambil sarapan dengan menu yang
sedikit sederhana yaitu mie sedap goreng untuk mengganjal perut yang kosong.
Setelah beristirahat dan sambil mengganjal perut rombongan kami melanjutkan
sedikit permainan supaya tenaga kami sehat bugar kembali dan tidak loyo lagi.
Kemudian dilanjutkan acara pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela Hizbul
Wathan Kwarcab Watukebo Jember.
Acara selesai,
waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB kami pun bersiap-siap menuju ke truk dan
melanjutkan kembali perjalanan pulang ke Jember. Di tengah perjalanan kami
semua tidur pulas dan tak terasa kami sudah sampai di Jember karena kami semua
merasa kelelahan dengan acara pendakian di Gunung Kawah Ijen. Tetapi pendakian
ke Gunung Kawah Ijen yang kedua kalinya ini untuk saya, saya merasa bersyukur
sekali karena pendakian tahun lalu tidak bisa menakklukkan ke dasar Kawah Ijen,
untuk pendakian kali ini saya merasa puas dan sangat bersyukur sekali atas
karunia Allah SWT sungguh perjalanan yang seru dan menguras tenaga. Saya
bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan menikmati keindahan karya alam
yang diciptakan-Nya.
Itulah cerita pengalaman
saya teman-teman aku tunggu cerita pengalamanmu ya... hehehe...
Sekian dan
terima kasih...
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb
“SALAH SATU
PENGALAMAN PALING MENGESANKAN”
Laporan : Rendra Setia
Pramana
Assalamualaikun
wr wb
Ini adalah
salah satu pengalaman yang paling mengesankan di dalam hidup saya, ketika
mendaki gunung ijen. Sekilas tentang gunung ijen, gunung ijen adalah sebuah
gunung berapi aktif yang terletak di daerah kab banyuwangi, jawa timur. Gunung
ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan pernah emapat kali meletus (1796, 1817,
1913, dan 1936). Kembali ke jalannya cerita... Waktu itu pada tanggal 24
Desember 2014 kami penghela kwarcab watukebo yang berjumlah sekitar 40 orang
berangkat ke kawah ijen untuk melaksanakan kegiatan pendakian dan pelantikan
penghela taruna melati 1 dan 2, kami berangkat menggunakan sebuah truk yang
ditutup terpal di atasnya. Bayangan perjalan yang sangat menyenangkan hilang
seketika ketika aku berhempit-hempitan dengan 40 orang lainya di dalam sebuah
truk yang tidak terlalu besar. Sesak, sempit, gerah semua campur jadi satu dan
yang paling menyebalkan adalah bahu solar yang menyengat. Tapi semua memaklumi
itu karena hanya dengan membayar uang yabg tidak perlu disebutkan jumlahnya dan
jelas sangat murah, kami bisa pergi ke kawah ijen.
Setelah 3 jam
perjalanan kami akhirnya tiba di tenpat tujuan dengan selamat, gerimis mulai
turun dan kabutpun mulai muncul, kami menginab terlebih dahalu lalu pada pukul
01.30 wib dini hari pada tanggal 25 desember kami memulai pendakian. Perjalan
yang kami lalui tidak begitu mudah, dengan cuaca yang dingin dan jarak pandang
yang terbatas kami lalui dengan penuh semangat, tetapi dengan semangat saja itu
semua tidak cukup karena ada teman kami yang berhenti lama ditengah jalan
karena fisik mereka kelelahan. Mendaki mendaki dan mendaki.. akhirnya kami tiba
dipuncak ijen dan disusul teman teman yang tertinggal di belakang. Diatas
puncak ijen yang dingin lalu kami melakukan shalat subuh berjamaah setelah
shalat sebagian ada yang turun ke kawah dan ada yang berlindung di antara
batu-batu agar tidak kedinginan. Mataharipun mulai muncul dan kamipun turun
dari puncak. Setelah semua turun kami melakukan kegiatan pelantikan, akhirnya
semua kegiatan selesai dan kami segera menuju truk yang sempit dan sesak itu
dan melanjutakan perjalan kembali kerumah. Pengalaman yang sangat mengesakan
dan pasti saya akan kembali lagi entah itu kapan.
Wassalamualaikum
wr wb
Nah masih banyak lagi pengalaman kami yang
mungkin belum sempat kami share ke kalian! Seru bukan???? Kunjungi deh si Ijen!
Hahaaa... ! selanjutnya pasti masih banyak kok pengalaman kami! Stay bareng
KOMUNITAS KOMUNIKASI HW WATUKEBO ya!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar