Minggu, 25 Januari 2015

Ketemu IJEN gara-gara Hizbul Wathan

Siapa sih yang gak tau gunung Ijen? Tempat wisata yang ada di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Nah yang paling amazing menurut para wisatawan lokal maupun internasional adalah fenomena pada kawah ijen. Yakni, dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru, yang merupakan keunikan tempat ini setiap 02.00-04.00 WIB, karena pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Islandia dan Ijen. Luar biasa bukan? Amazing kan?
Pada bulan Desember 2014, Pandu penghela HW KwarCab Watukebo berkesempatan mengunjungi kawasan Ijen hingga melakukan pendakian sampai ke kawah dan menikmati liburan yang menyenangkan tersebut. Berikut merupakan lapora perjalanan dari kami, :

IJEN, PENDAKIAN PERTAMA KE TEMPAT JAUH”
Hasil Laporan Perjalanan : Fitriah Ika Sari
Pada hari Rabu, 24 Desember 2014 lalu saya memiliki pengalaman yang asyik dan menyenangkan bersama rombongan HW Penghela KwarCab Watukebo dalam rangka Pelantikan Penghela tingkat Taruna Melati 1 di area Gunung Ijen (2.443 m) yang adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia.
Nah Rabu pagi itu, rombongan kami yang kurang lebih berjumlah lebih dari 20-30 orang sudah mulai berkumpul (Rumah Pak Arsyad,Watukebo) pukul 09.00 WIB dengan segala persiapan yang mantap. Namun keberangkatan kami molor karena mengurus registrasi biaya hingga kami berangkat pukul 11.00 WIB menggunakan sebuah truk. Waktu yang kami tempuh menuju area Gunung Ijen sekitar 5-6 jam itu membuat saya dan rombongan merasakan sensasi yang mantap yaitu terbanting-banting (dari kiri ke kanan atau dari depan ke belakang , dan sebaliknya),merasa kepayahan di area perut , duduk dan tidur dengan terjepit-jepit, berdiri hingga kesemutan, bingung karna air hujan yang muncrat ke dalam truk,, dll. Namun kami tetap merasakan semangat juang dan tak mau kalah dengan senior kami yang masih bersemangat meskipun umurnya sudah sepuh.
Dengan segala perjuangan di dalam truk yang penuh sensasi itu, akhirnya kami berhenti dan me-refresh perut dan badan kami sejenak dengan mengunjungi sebuah air terjun, yaitu Air Terjun Kali Pahit yang memiliki bentuk air terjun yang memanjang beraliran seperti sungai tetapi mengalir dari atas memalui jalur yang terbentuk alami diantara bebatuan pegunungan. Air disini memiliki warna kuning kehijauan mengandung belerang yang sangat tinggi. Menurut informasi, air terjun ini merupakan rembesan dari Kawah Ijen. Udara yang dingin langsung menyengat kulit kami yang sebelumnya merasakan gerah tak berkesudahan di dalam truk. Setelah terasa cukup waktu santai yang kami habiskan untuk sekedar duduk santai dan berfoto ria, kami segera meneruskan perjalanan kami yang ‘katanya’ sedikit kebablas melewati objek yang kami tuju.
Tak lama, sekitar pukul 17.00 WIB, saya dan rombongan sampai di tempat tujuan kami, dan segera melarikan diri menuju kamar mandi umum terdekat untuk sekedar wudhu’ atau menyelesaikan kebutuhan pribadi. Secara pribadi, saya merasa ‘amazing’  saat pertama kali turun dari truk, yaitu ketika uap tercipta setelah saya ataupun yang lainnya berbicara dan dibarengi dengan suhu yang dingin juga bahkan air yang dingin ketika disentuh. Semuanya terasa dingin! Dan kami berusaha beradaptasi.
Banyak hal yang terasa menyenangkan ketika sampai di area Gunung Ijen pertama kali. Seperti makan bersama-sama seusai melaksanakan shalat jama’ah, mendapat sedikit ilmu tentang ‘kabut’ dari pak Agus, dll. Bahkan dinginnya kawasan Gunung Ijen-pun terasa menyenangkan ditambah lagi dengan pengalaman konyol yang saya rasakan bersama kawan saya yaitu Novita Sepdiana Putri dan ditemani oleh Mbak Nadya ketika membeli Pete atas suruhan dari pak Heri, pak Hendro, Mas Catur, dll. Dengan PD-nya kami berjalan sambil membawa uang yang hanya sebesar Rp 2000,00 menuju toko yang menawarkan beberapa ikat pete yang kelihatan bagus dan lezat bagi penikmatnya, juga terlihat gagah dan mahal. Teganya, pete yang terlihat gagah dan mahal itu benar-benar mahal dan hanya senilai 1 utas pete saja. Kami yang sudah merasa malu dan hanya bisa tertawa, hanya mampu berucap sebal kepada pak Hendro dkk.
Setelah insiden sore itu, saya dan rombongan melaksanakan shalat berjama’ah dan kegiatan santai lainnya untuk menyiapkan diri agar keadaan tetap fit untuk pendakian ke Gunung Ijen. Banyak kegiatan santai yang bisa kami habiskan di tempat istirahat kami yang seperti balai pertemuan di dalam area lapangan kawasan; seperti perencanaan pendakian, memahami ilmu perbintangan dan tanda alam yang disampaikan Pak Arsyad, minum kopi, mendengar musik, masak mie instan,membuat api unggun,  makan jagung bakar, bahkan berfoto-foto ria hingga kami beristirahat sekitar pukul 22.00 WIB.
Keesokannya , sesuai kesepakatan bersama, pendakian dipersiapkan sekitar pukul 01.00 WIB. Kemudian kami mulai memasuki area pendakian sekitar pukul 01.45 WIB setelah mengurus tiket masuk. Udara mulai terasa dingin dan perjalanan mulai terasa berat apalagi sambil membawa tas punggung yang membebani dan geregetan untuk membuang tas punggung tersebut, ketika merasa lelah dan merasa tidak kuat mendaki jalan yang mulai menanjak. Banyak kawan-kawan lainnya yang merasakan kram dan tidak kuat mendaki sampai ke puncak Ijen, apalagi mata yang mulai pedih, dan bau belerang yang mulai tercium, namun saya dan rombongan tetap berusaha menaklukan puncak Gunung Ijen dengan semangat juang hingga kami berhasil sampai puncak Ijen sekitar pukul 04.00 WIB.
Ketika sampai di puncak Gunung Ijen, rombongan kami bersama dengan rombongan lain menjalankan shalat Subuh berjama’ah dengan ditemani dinginnya pagi yang terasa luar biasa dengan syukur dan nikmat ketika melihat Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul di bawah kawah. Saya dan rombongan bersyukur dapat melihat sedikit fenomena blue fire, meskipun sedikit redup.
Selepas mencapai puncak Gunung Ijen, saya dan rombongan mulai menyebar untuk melakukan aktifitas yang mereka inginkan masing-masing. Seperti berfoto ria bersama turis asing, ber-selfie ria, sarapan pagi, beristirahat,dll. Bahkan ada yang berjalan turun menuju kawah Ijen dengan semangat yang tak mau kalah dari bapak-bapak penambang yang bekerja turun-naik mengangkat hasil tambang (belerang) seberat 55-65Kg bahkan lebih yang hanya bernilai sedikit rupiah untuk menyambung hidup sehari-hari. Rasa syukur tergelak oleh kami ketika sadar betapa beruntungnya kami yang kehidupannya sedikit jauh lebih ringan dibandingkan mereka yang harus bersusah payah mendapat rupiah. Tak hanya kami yang tertarik dengan kerja keras mereka, wisatawan asingpun ikut menyorot kerja keras mereka guna menyambung hidup dengan mengabadikan setiap peluh yang para penambang tersebut keluarkan lewat kamera canggih mereka. Yang paling nikmat di perjalanan kami menuju kawah Gunung  Ijen adalah ketika kami harus ‘mengalah’, memberi jalan untuk para penambang  yang sedang bekerja. Saat itulah kami harus mencari celah agar tidak mengganggu, apalagi wisatawan asing yang tak kalah ‘asyik’ mencari celah dibarengi guide mereka.
Saat sampai kawah Gunung Ijen, saya dan rombongan langsung menghambur untuk berfoto ria, mencoba sensasi menambang, membuat sedikit prakarya, dan mengisi botol dengan air belerang. Tak lama, kami dan rombongan naik kembali  dengan susah payah menuju puncak dan kemudian pulang untuk turun menuju tempat peristirahatan kami. Ternyata untuk turun gunungpun tidak mudah, berkali-kali hampir terpeleset dan jatuh , untung saja tak sampai terluka. Pada pukul 10.00 WIB, akhirnya saya sampai di tempat peristirahatan dengan lega dan syukur. Setelah itu bersama yang lain, saya menikmati sarapan dengan sebungkus mie nikmat yang terasa luar biasa setelah menikmati pengalaman yang menyenangkan.
Hampir pukul 11.00 WIB, kami melaksanakan pelantikan dengan rasa lega dan syukur lalu kami bersiap untuk pulang. Tak terkira rasanya sama saja seperti keberangkatan awal yang penuh sensasi namun jadi daya tarik kenangan yang tak terlupakan hingga kami tiba di Ambulu sekitar pukul 14.55 WIB.



“PENGALAMAN, dan TERIMA KASIH HW KWARCAB WATUKEBO”
Oleh : Puji Utami

Pengalaman adalah guru terbaik,terima kasih untuk HW KwarCab Watukebo telah menciptakan pengalaman ini semoga pengalaman ini bisa menjadi guru yang terbaik bagi kami,pendakian ke kawah ijen kemarin(24-25 desember 2014) memang merupakan pengalaman yang tak kan pernah terlupakan,berangkat dari watukebo menaiki truk dengan keadaan yang panas dan pengap serta kondisi yang berdesak2 sekitar 4-5 jam perjalanan yang penuh perjuangan terbanting ke kanan kiri terkena air hujan telah mewarnai perjalanan ini,sampai di ijen langsung disambut dengan suhu yang sangat dingin yang membuat kita harus segera beradaptasi dgn lingkungan yg sangat berbeda dg yg ada di truk tadi,kita sampai dan istirahat sebentar untuk sholat,makan,dsb,yang selanjutnya diselingi dgn materi-materi tentang pengenalan tanda-tanda alam yang akan sangat berguna untuk masa depan,pendakian dimulai sktr jm 1 smpai setengah 2 dini hari,dengan suhu yang sangat dingin menyelimuti tubuh ini,bahkan ada diantara kita yang berhenti dan muntah-muntah dalam perjalanan,tapi syukur alhmdulillah kita semua bisa sampai puncak tepat sekitar shubuh datang menjelang,inilah pengalaman yang paling mengharukan menurutku,kita sampai puncak dan kita melaksanakan shalat shubuh berjama'ah depan kita telah terbentang luas kawah dan belakang kita ada jurang yang sangat dalam,membuatku begitu merinding,ditemani angin dingin yang menerjang kita bersujud,bersimpuh kepada yang kuasa,terima kasih sekali lagi kepada hw kwarcab watukebo telah memperlihatkan kepada kami tentang alam dan keindahannya dan tak lupa bersyukur kepada Sang Maha Pencipta.



“PENDAKIAN DI GUNUNG KAWAH IJEN”
Hasil Laporan Perjalanan: Evi Junita

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus pada tahun (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Bondowoso ataupun dari Banyuwangi.
Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Pada hari rabo tanggal 24 Desember 2014 kami rombongan Hizbul Wathan Kwarcab Watukebo Jember mengadakan pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela yang bertempat di Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang terletak di perbataan Bondowoso-Banyuwangi. Rombongan kami berjumlah kurang lebih 30 orang.
Tepat pukul 10.00 WIB pagi kami berangkat dari Kota Jember. Rombongan kami berangkat dengan mengendarai sebuah truk. Sesaat di Kota Bondowoso, kami berhenti sejenak di sebuah mini market untuk istirahat dan membeli bekal. Di tengah perjalanan ada beberapa teman kami yang mengalami pusing-pusing, mual, dan sebagainya karena sempitnya tempat di dalam truk sehingga mengakibatkan sempitnya kami untuk duduk. Tanpa terasa kami sudah memasuki kawasan Gunung Ijen. Dingin, hujan, nuansa jalan yang sepi ikut menemani petualangan kami, jalanan yang beraspal. Tidak lama kemudian rombongan kami berhenti di sebuah aliran sungai yang mirip air terjun (sekitar 15 menit sebelum Kawah Ijen). Kami pun berfoto-foto di sana. Airnya cukup jernih tapi mengandung belerang.
Akhirnya setelah hampir 5 jam di jalan kami pun sampai juga di tempat tujuan kami yaitu Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kami tiba pukul 16.00 WIB. Ternyata disana sudah ramai pengunjung yang mayoritas kendaraan roda 4. Setelah memarkir truk, dengan suhu yang cukup dingin kami pun turun dengan bingungnya kami untuk mencari sebuah toilet, akhirnya kami pun menemukan sebuah toilet untuk buang air kecil dan sekalian mengambil air wudhu untuk persiapan sholat maghrib. Setelah semua selesai jalan-jalan, melihat-lihat pemandangan yang cukup indah di kawasan Gunung Ijen ini teman-teman menuju di sebuah pos yang tidak jauh dari tempat parkir.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB kami semua berkumpul untuk membicarakan tentang teknis mendaki gunung dan larangan-larangan yang harus kami patuhi di sekitar kawasan gunung kawah ijen. Banyak teman-teman kami yang merasa kedinginan karena suhu yang kami rasakan saat ini cukup membuat bulu kulit kami berdiri. Pukul 21.00 WIB kami semua pun akhirnya tidur pulas karena untuk mempersiapkan energi serta fisik kami untuk mendaki Gunung Kawah Ijen pada nanti malam pukul 02.00 WIB.
Tepat pukul 01.30 WIB kami bersiap-siap memakai masker, jaket tebal, sarung tangan, sal dan lain-lain telah usia, saatnya kami go menuju Kawah Ijen. Pendakian pun berlanjut. Rasa ngantuk dan dinginnya angin malam harus kami lawan sepanjang perjalanan selama mendaki Gunung Kawah Ijen. Pendakian yang lumayan tinggi menguras stamina dan membuat otot kaki terasa pegal. Kami berhenti sejenak karena ada anggota kami yang sedang kecapekan. Para penambang belerang sudah bersemangat sambil membawa alat penerang dan keranjang pikul.
Di tengah jalur pendakian ini terdapat sebuah pondokan yang merupakan tempat penimbangan belerang yang diambil oleh para penambang dari Kawah Ijen. Disini juga terdapat penjual belerang beraneka bentuk seperti binatang, bunga dan hiasan lainnya, dan harganya cukup murah yaitu Rp 5 ribu. Dari pondokan ini, kami harus berjalan lagi selama 45 menit untuk menuju Kawah, itu informasi yang kami dapat dari seorang penjaga pondokan tersebut.
Akhirnya setelah 2 jam berjalan kaki dari pos Paltuding, kami sampai juga di puncak Gunung Ijen. Kawah Ijen ini selalu mengeluarkan asap belerang yang cukup menyengat. Untuk mengurangi bau belerang, gunakan masker yang dibasahi dengan air agar racunnya bisa tersaring sebagian.
Pemandangan Kawah Ijen cukup indah. Kawah berwarna hijau dengan bukit-bukit yang mengelilinginya menjadikan Kawah ini sebagai objek foto yang menarik. Kawah Ijen juga terkenal dengan fenomena Api Birunya yang biasa disebut Blue Fire. Fenomena tersebut hanya bisa dilihat bila kita datang pada waktu dini hari sebelum matahari terbit. Mengambil gambarnya pun cukup sulit. Pengunjung harus mendekati Kawah menuju lokasi penambang belerang. Dan kamera yang digunakan pun bukan kamera saku biasanya, tetapi harus kamera DSLR. Tapi sayang aku tidak bisa melihat Api Biru atau Blue Fire-nya dari puncak gunung, karena aku terlalu pagi sampai di Puncak Gunung Ijennya. Api biru tersebut berasal dari tempat penambangan belerang.
Setelah itu rombongan kami melanjutkan perjalanan ke dekat Kawah dan dekat dengan penambangan belerang, Perjalanan dari puncak menuju dasar kawah sangatlah sulit. Jalanannya berbatu dan licin. Mesti sangat berhati-hati jika tak ingin tergelincir. Belum lagi bau belerang pekat yang membuat dada sesak. Bagi orang yang tak biasa, udara bercampur belerang sangat menyakitkan mata. Apalagi penambang mesti membawa puluhan kilo batu belerang kembali ke puncak, tentu tak terbayang bagaimana sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.
Makin dekat ke kawah, semakin saya bisa melihat apa-apa dengan jelas. Tetapi begitu capeknya saya ingin kembali ke puncak Gunung Ijen. Tapi keyakinan makin luntur seiring semakin dalam daerah kawah yang saya tapaki. Saya merasa harus mampu menyelesaikan perjalanan ini sebisa mungkin. Danau air tawar sudah terlihat. Dekat danau, ada mata air panas yang mengalirkan air langsung ke danau. Airnya beruap dan tak berhenti mengucur dari sumbernya. Saya cukup takjub melihat apa yang ada di hadapan. Ada enam tong besar dari seng yang tak berhenti mengeluarkan uap panas. Di bawah tong-tong besar itulah sumber belerang yang ada di kawah ini.
Ada tiga penambang yang sedang menghancurkan batu-batu belerang di sekitar lokasi. Mereka tak memakai masker. Satu di antaranya hanya menggunakan sendal jepit. Mereka tersenyum melihat kedatangan rombongan kami. Disana kami berfoto-foto untuk menjadikan foto tersebut pengalaman dan juga kenangan indah kami selama berjalan selama 2 jam sangat mengasyikkan dengan keadaan yang cukup dingin, ngantuk dan capek.
Disana kami sempat bertanya kepada salah seorang penambang yang kami temui tentang upah mereka. Ternyata mereka hanya dibayar Rp 780 setiap 1 kilo belerang yang mereka angkut dari lokasi tambang ke pos penimbangan. Harga yang sangat tidak sesuai dengan risiko dan tenaga yang mereka keluarkan.
Akhirnya rombongan kami memutuskan untuk kembali ke pos paltuding, setelah kami sampai di pos paltuding teman-teman pada istirahat karena kecapekan dan saya juga merasakan capek yang begitu luar biasa sampai-sampai kaki saya keram susah banget buat jalan. Aku berpikiran untuk meminta tolong kepada teman saya untuk memijat kaki saya yang sedang keram. Kami juga sambil sarapan dengan menu yang sedikit sederhana yaitu mie sedap goreng untuk mengganjal perut yang kosong. Setelah beristirahat dan sambil mengganjal perut rombongan kami melanjutkan sedikit permainan supaya tenaga kami sehat bugar kembali dan tidak loyo lagi. Kemudian dilanjutkan acara pelantikan Taruna Melati 1 bagi Penghela Hizbul Wathan Kwarcab Watukebo Jember.
Acara selesai, waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB kami pun bersiap-siap menuju ke truk dan melanjutkan kembali perjalanan pulang ke Jember. Di tengah perjalanan kami semua tidur pulas dan tak terasa kami sudah sampai di Jember karena kami semua merasa kelelahan dengan acara pendakian di Gunung Kawah Ijen. Tetapi pendakian ke Gunung Kawah Ijen yang kedua kalinya ini untuk saya, saya merasa bersyukur sekali karena pendakian tahun lalu tidak bisa menakklukkan ke dasar Kawah Ijen, untuk pendakian kali ini saya merasa puas dan sangat bersyukur sekali atas karunia Allah SWT sungguh perjalanan yang seru dan menguras tenaga. Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan menikmati keindahan karya alam yang diciptakan-Nya.
Itulah cerita pengalaman saya teman-teman aku tunggu cerita pengalamanmu ya... hehehe...
Sekian dan terima kasih...
Wassalamu’alaikum Wr. Wb





“SALAH SATU PENGALAMAN PALING MENGESANKAN”
Laporan : Rendra Setia Pramana

Assalamualaikun wr wb
Ini adalah salah satu pengalaman yang paling mengesankan di dalam hidup saya, ketika mendaki gunung ijen. Sekilas tentang gunung ijen, gunung ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah kab banyuwangi, jawa timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan pernah emapat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936). Kembali ke jalannya cerita... Waktu itu pada tanggal 24 Desember 2014 kami penghela kwarcab watukebo yang berjumlah sekitar 40 orang berangkat ke kawah ijen untuk melaksanakan kegiatan pendakian dan pelantikan penghela taruna melati 1 dan 2, kami berangkat menggunakan sebuah truk yang ditutup terpal di atasnya. Bayangan perjalan yang sangat menyenangkan hilang seketika ketika aku berhempit-hempitan dengan 40 orang lainya di dalam sebuah truk yang tidak terlalu besar. Sesak, sempit, gerah semua campur jadi satu dan yang paling menyebalkan adalah bahu solar yang menyengat. Tapi semua memaklumi itu karena hanya dengan membayar uang yabg tidak perlu disebutkan jumlahnya dan jelas sangat murah, kami bisa pergi ke kawah ijen.
Setelah 3 jam perjalanan kami akhirnya tiba di tenpat tujuan dengan selamat, gerimis mulai turun dan kabutpun mulai muncul, kami menginab terlebih dahalu lalu pada pukul 01.30 wib dini hari pada tanggal 25 desember kami memulai pendakian. Perjalan yang kami lalui tidak begitu mudah, dengan cuaca yang dingin dan jarak pandang yang terbatas kami lalui dengan penuh semangat, tetapi dengan semangat saja itu semua tidak cukup karena ada teman kami yang berhenti lama ditengah jalan karena fisik mereka kelelahan. Mendaki mendaki dan mendaki.. akhirnya kami tiba dipuncak ijen dan disusul teman teman yang tertinggal di belakang. Diatas puncak ijen yang dingin lalu kami melakukan shalat subuh berjamaah setelah shalat sebagian ada yang turun ke kawah dan ada yang berlindung di antara batu-batu agar tidak kedinginan. Mataharipun mulai muncul dan kamipun turun dari puncak. Setelah semua turun kami melakukan kegiatan pelantikan, akhirnya semua kegiatan selesai dan kami segera menuju truk yang sempit dan sesak itu dan melanjutakan perjalan kembali kerumah. Pengalaman yang sangat mengesakan dan pasti saya akan kembali lagi entah itu kapan.
Wassalamualaikum wr wb


Nah masih banyak lagi pengalaman kami yang mungkin belum sempat kami share ke kalian! Seru bukan???? Kunjungi deh si Ijen! Hahaaa... ! selanjutnya pasti masih banyak kok pengalaman kami! Stay bareng KOMUNITAS KOMUNIKASI HW WATUKEBO ya!!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar